Kamis, 04 November 2010

Jangan Biasakan bermalas-malasan

Malas, merupakan salah
satu penyebab negara
Indonesia ini tertinggal
dengan negara lain
khususnya hubungannya
dengan Sumber Daya
Manusia (SDM). Sebagai
contoh janganlah jauh-
jauh dahulu ke Eropa, tapi
yang dekat terlebih dahulu
seperti Malaysia ataupun
Singapura yang secara
geografis luas negaranya
maupun kekayaan
alamnya jauh berbeda
dengan Indonesia namun
jauh berbeda pula dalam
hal "manusianya", padahal
dulu pelajar maupun guru-
guru dari Malaysia datang
ke Indonesia ini untuk
belajar memperdalam
ilmunya.
Malas bisa berarti banyak
hal, malas belajar (umum
terjadi pada pelajar)
ataupun malas dalam
lingkup yang universal
yaitu malas dalam
mengerjakan sesuatu Tapi
memang rasa malas sudah
merupakan fitrah dari
Tuhan dan kita harus yakin
bahwa pemberian Tuhan
itu selalu ada manfaatnya,
hanya saja
permasalahannya terletak
pada bagaimana kita
mengatasi rasa malas
tersebut, mencoba
mengambil manfaat atau
hikmah dari penanganan
rasa malas kita dan belajar
melihat dari sudut
pandang yang lebih baik.
Malas itu bisa diibaratkan
seperti keimanan kita yang
ada kalanya meningkat
dan ada kalanya menurun.
Tapi ternyata kalau dilatih
terus menerus dan teratur
keimanan itu bisa
meningkat atau
setidaknya tidak menurun.
Nah..begitupun dengan
malas, dengan cara teratur
diikuti dengan
kekonsistenan kita
mengerjakan metode atau
cara mengatasi rasa malas,
insyaallah rasa malas bisa
di atasi dan bukan tak
mungkin bisa berubah
menjadi rajin..
Aku jadi terinspirasi oleh
temanku yang
mengatakan seperti ini,
"wah..kalau ada yang
nggak malas, hebatlah".
Dari perkataan terdapat
makna yaitu orang yang
malas dengan yang rajin,
yang sukses dengan yang
gagal sama-sama
menghabiskan waktu 24
jam perhari, yang
membedakan hanyalah
manajemen dan
pemanfaatan waktu
tersebut. Ada beberapa
cara untuk mengatasi rasa
malas, diantaranya ialah :
1. Banyak membaca
Jenis bacaannya bisa
bermacam-macam, buku,
komik, novel ataupun
majalah karena disini tidak
mempermasalahkan
dahulu apakah buku itu
baik atau tidak untuk
dibaca, tapi yang penting
adalah benar terlebih
dahulu, benar dalam
rangka untuk membentuk
kebiasaan dan sifat tidak
malas karena nanti itu
akan menjadi kepribadian
dan karakter kita. Dampak
dari membaca adalah kita
akan berfikir lebih "jauh"
dan akan merasa rugi jika
membuat waktu kita tidak
efektif dan terbuang
dengan sia-sia karena telah
terbiasa untuk selalu
mengefektifkan waktunya
dengan cara yang benar.
DR. Aidh Al-Qarni dalam
bukunya "La Tahzan"
menuliskan
"Berpengetahuan dan
berwawasan luas,
menguasai banyak teori
keilmiahan, berfikir secara
orisinil, memahami
permasalahan dan
argumentasi pijakannya
adalah sedikit dari sekian
bayak factor yang dapat
membantu menciptakan
kelapangan di dalam hati.
Orang yang
berpengetahuan luas
adalah orang yang
berfikiran bebas dan
berjiwa teduh". Sedangkan
untuk implementasi dari
membaca bisa dengan
mengajar, menulis, dll.
Setelah kita membaca yang
benar, kemudian
bertambah tingkatan
menjadi baik sehingga
menjadi "membaca yang
benar dan baik". Baik disini
mengandung arti
membaca buku -buku yang
bermanfaat dan baik
tentunya seperti buku
tentang pengembangan
diri, ilmu pengetahuan
maupun agama, bukan lagi
buku seperti komik, novel ,
majalah, dsb. yang
biasanya informasinya
tidak berlaku untuk jangka
waktu yang lama dan
tentunya dari segi
manfaat dan bobot isi
berbeda dengan buku
yang baik tadi.
Dan jika setelah membaca
kita ingin mempunyai
semangat, bacalah buku-
buku tentang orang-orang
yang sukses atau tokoh -
tokoh terkenal, biasanya
setelah membaca buku
seperti itu, timbul
semangat untuk maju dan
ingin sukses seperti
mereka atau bahkan
melebihinya. Bukankah
hidup ini harus selalu
dinamis dan terus
mengalami peningkatan
seperti hadits yang sering
kita dengar " Barang siapa
hari ini lebih buruk dari
hari kemarin maka dia
orang yang terlaknat,
barang siapa yang hari ini
sama dengan hari kemarin
maka dia orang yang
merugi dan barang siapa
yang hari ini lebih baik dari
hari kemarin maka dialah
orang yang diridhai atau
diberi rahmat oleh Allah".
2. Permainan pikiran.
Pokoknya, ketika kita ingin
melakukan sesuatu dan
tiba-tiba rasa malas
muncul, jangan pernah
mengucapkan ataupun
berpikiran negatif seperti
"ah.cape nih, sepertinya
tidak akan benar". Lebih
baik berpikiran positif
seperti "wah..sepertinya
asyik nih.pasti rame, come
on semangat..semangat,de
el el. Karena bagimanapun
juga energi yang
digunakan untuk
berpikiran yang negatif
dengan positif itu adalah
equal alias sama, jadi
bukankah lebih baik
apabila kita hanya
memasukkan pikiran yang
positif saja. Otak secara
otomatis akan menerima
perintah dan masukan dari
kita. Kalau berpikiran
malas, pasti rasanya malas
terus, otak kita akan
mencari alasan supaya kita
menjadi malas. "Apa yang
anda pikirkan akan
menjadi
kenyataan" (Quantum
Learning). Kemudian jika
kita melakukan sesuatu
harus sesuai mood dan
kalau tidak mood maka
yang ada hanya malas,
yakinlah tidak akan
sempurna, seharusnya
mood atau tidak, kerjakan
saja. Justru mood itu
datang saat kita sedang
melakukan suatu kegiatan,
bukan sebelum kegiatan
tersebut akan dilakukan.
Masalah penampakan
mood itu hanya sebuah
alasan sebagai
persembunyian akan rasa
malas tersebut. Jadi
Intinya kerjakan saja dan
selalu berpikiran positif,
semua itu akan membuat
hidup lebih hidup.. Rasa
malas tidak akan pernah
hilang jika kita terus
berpikiran malas dan
hanya menunggu
malasnya hilang. Seperti
slogan salah satu produk
sepatu, Just Do It .!
3. Memiliki Tujuan
Hidup bisa diibaratkan
dengan sebuah kapal laut
dan kitalah nahkodanya.
Kalau seorang nahkoda
tidak punya tujuan dan
tidak mempunyai kejelasan
mau dibawa kemana kapal
tersebut, maka kapak itu
hanya akan terombang-
ambing oleh ombak dan
hanya mengikuti kemana
air mengalir. Dengan
tujuan kita punya impian
dan akan mengerahkan
upaya untuk mencapai
tujuan tersebut sehingga
rasa malas akan
tersingkirkan.
Sangatlah rugi kalau hidup
ini layaknya kapal tadi,
hanya mengikuti kemana
air mengalir, tidak punya
suatu kejelasan. Hidup ini
terlalu berharga untuk
disia-siakan, seperti kata
bijak "masa depan adalah
apa yang kita lakukan
pada hari ini". Terus kalau
kita malas terus bisa
ditebak bagaimana jadinya
masa depan kita. Semakin
banyak yang kita perbuat
semakin nyatalah jati diri
kita. Kemudian untuk
mengatasi malas, kita juga
harus selalu introspeksi
diri sendiri supaya kita
terus memperbaharui diri
dan memperbaiki
kesalahan yang kita
perbuat. Dan jangan lupa
juga untuk selalu
berpikiran ke depan.
Silakan malas malasan
sekarang, tapi kita juga
harus siap dan berani
menanggung akibatnya
suatu saat nanti, khan apa
yang kita tanam itulah
yang akan kita tuai. Ingat,
kitalah pemimpin diri kita
sendiri !.
4. Berdoa
Meskipun dengan
semangat yang menggebu,
banyak membaca, dan
terus mencari cara untuk
menghilangkan malas,
tetap saja kalau tanpa
seizin -Nya, semua itu
tidak akan pernah berhasil.
Supaya kita tidak jadi
orang yang sombong,
banyak - banyaklah berdoa
karena doa merupakan
suatu pengharapan yang
akan membuat kita selalu
termotivasi khususnya
secara psikologis. Kata -
kata yang diucapkan
dalam doa akan menjadi
suatu pemikiran yang
positif bagi kita. Lalu apa
yang kita lakukan setelah
kita berdoa ? jawabnya
adalah ikhtiar. Kita tidak
bisa hanya berdoa saja
tanpa melakukan suatu
upaya. Sebagai wujud
tanggung jawab dari doa
kita adalah kita
bersungguh-sungguh
berusaha mewujudkan
doa tersebut. Setelah itu
barulah kita bertawakkal
yang berarti menyerahkan
setiap urusan kepada -
Nya. Kita harus sadar
bahwa kita itu penuh
dengan keterbatasan, kita
hanya bisa berusaha dan
berdoa sedangkan
Tuhanlah yang berhak
menentukan. Tentunya
supaya doa kita
dikabulkan, syarat mutlak
adalah rajin beribadah..
Perlu diingat bahwa yang
benar-benar ada itu adalah
orang yang rajin dengan
yang malas, bukan yang
pintar dengan yang
bodoh, karena kita itu
semuanya makhluk yang
unggul, coba bayangkan
sebelum kita terlahir ke
dunia ini kita sudah
bersaing dengan berjuta-
juta sperma, dan kitalah
yang keluar sebagai
pemenangnya.
Mungkin masih banyak
cara-cara yang lain, tapi
semoga cara-cara diatas
bisa menghilangkan atau
minimal mengurangi rasa
malas kita. Tapi semuanya
kembali kepada diri kita
sendiri karena rasa malas
akan terus menghantui
kalau kitanya sendiri tidak
pernah ada keinginan kuat
untuk menghilangkannya.
Bagaimana ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamis, 04 November 2010

Jangan Biasakan bermalas-malasan

Malas, merupakan salah
satu penyebab negara
Indonesia ini tertinggal
dengan negara lain
khususnya hubungannya
dengan Sumber Daya
Manusia (SDM). Sebagai
contoh janganlah jauh-
jauh dahulu ke Eropa, tapi
yang dekat terlebih dahulu
seperti Malaysia ataupun
Singapura yang secara
geografis luas negaranya
maupun kekayaan
alamnya jauh berbeda
dengan Indonesia namun
jauh berbeda pula dalam
hal "manusianya", padahal
dulu pelajar maupun guru-
guru dari Malaysia datang
ke Indonesia ini untuk
belajar memperdalam
ilmunya.
Malas bisa berarti banyak
hal, malas belajar (umum
terjadi pada pelajar)
ataupun malas dalam
lingkup yang universal
yaitu malas dalam
mengerjakan sesuatu Tapi
memang rasa malas sudah
merupakan fitrah dari
Tuhan dan kita harus yakin
bahwa pemberian Tuhan
itu selalu ada manfaatnya,
hanya saja
permasalahannya terletak
pada bagaimana kita
mengatasi rasa malas
tersebut, mencoba
mengambil manfaat atau
hikmah dari penanganan
rasa malas kita dan belajar
melihat dari sudut
pandang yang lebih baik.
Malas itu bisa diibaratkan
seperti keimanan kita yang
ada kalanya meningkat
dan ada kalanya menurun.
Tapi ternyata kalau dilatih
terus menerus dan teratur
keimanan itu bisa
meningkat atau
setidaknya tidak menurun.
Nah..begitupun dengan
malas, dengan cara teratur
diikuti dengan
kekonsistenan kita
mengerjakan metode atau
cara mengatasi rasa malas,
insyaallah rasa malas bisa
di atasi dan bukan tak
mungkin bisa berubah
menjadi rajin..
Aku jadi terinspirasi oleh
temanku yang
mengatakan seperti ini,
"wah..kalau ada yang
nggak malas, hebatlah".
Dari perkataan terdapat
makna yaitu orang yang
malas dengan yang rajin,
yang sukses dengan yang
gagal sama-sama
menghabiskan waktu 24
jam perhari, yang
membedakan hanyalah
manajemen dan
pemanfaatan waktu
tersebut. Ada beberapa
cara untuk mengatasi rasa
malas, diantaranya ialah :
1. Banyak membaca
Jenis bacaannya bisa
bermacam-macam, buku,
komik, novel ataupun
majalah karena disini tidak
mempermasalahkan
dahulu apakah buku itu
baik atau tidak untuk
dibaca, tapi yang penting
adalah benar terlebih
dahulu, benar dalam
rangka untuk membentuk
kebiasaan dan sifat tidak
malas karena nanti itu
akan menjadi kepribadian
dan karakter kita. Dampak
dari membaca adalah kita
akan berfikir lebih "jauh"
dan akan merasa rugi jika
membuat waktu kita tidak
efektif dan terbuang
dengan sia-sia karena telah
terbiasa untuk selalu
mengefektifkan waktunya
dengan cara yang benar.
DR. Aidh Al-Qarni dalam
bukunya "La Tahzan"
menuliskan
"Berpengetahuan dan
berwawasan luas,
menguasai banyak teori
keilmiahan, berfikir secara
orisinil, memahami
permasalahan dan
argumentasi pijakannya
adalah sedikit dari sekian
bayak factor yang dapat
membantu menciptakan
kelapangan di dalam hati.
Orang yang
berpengetahuan luas
adalah orang yang
berfikiran bebas dan
berjiwa teduh". Sedangkan
untuk implementasi dari
membaca bisa dengan
mengajar, menulis, dll.
Setelah kita membaca yang
benar, kemudian
bertambah tingkatan
menjadi baik sehingga
menjadi "membaca yang
benar dan baik". Baik disini
mengandung arti
membaca buku -buku yang
bermanfaat dan baik
tentunya seperti buku
tentang pengembangan
diri, ilmu pengetahuan
maupun agama, bukan lagi
buku seperti komik, novel ,
majalah, dsb. yang
biasanya informasinya
tidak berlaku untuk jangka
waktu yang lama dan
tentunya dari segi
manfaat dan bobot isi
berbeda dengan buku
yang baik tadi.
Dan jika setelah membaca
kita ingin mempunyai
semangat, bacalah buku-
buku tentang orang-orang
yang sukses atau tokoh -
tokoh terkenal, biasanya
setelah membaca buku
seperti itu, timbul
semangat untuk maju dan
ingin sukses seperti
mereka atau bahkan
melebihinya. Bukankah
hidup ini harus selalu
dinamis dan terus
mengalami peningkatan
seperti hadits yang sering
kita dengar " Barang siapa
hari ini lebih buruk dari
hari kemarin maka dia
orang yang terlaknat,
barang siapa yang hari ini
sama dengan hari kemarin
maka dia orang yang
merugi dan barang siapa
yang hari ini lebih baik dari
hari kemarin maka dialah
orang yang diridhai atau
diberi rahmat oleh Allah".
2. Permainan pikiran.
Pokoknya, ketika kita ingin
melakukan sesuatu dan
tiba-tiba rasa malas
muncul, jangan pernah
mengucapkan ataupun
berpikiran negatif seperti
"ah.cape nih, sepertinya
tidak akan benar". Lebih
baik berpikiran positif
seperti "wah..sepertinya
asyik nih.pasti rame, come
on semangat..semangat,de
el el. Karena bagimanapun
juga energi yang
digunakan untuk
berpikiran yang negatif
dengan positif itu adalah
equal alias sama, jadi
bukankah lebih baik
apabila kita hanya
memasukkan pikiran yang
positif saja. Otak secara
otomatis akan menerima
perintah dan masukan dari
kita. Kalau berpikiran
malas, pasti rasanya malas
terus, otak kita akan
mencari alasan supaya kita
menjadi malas. "Apa yang
anda pikirkan akan
menjadi
kenyataan" (Quantum
Learning). Kemudian jika
kita melakukan sesuatu
harus sesuai mood dan
kalau tidak mood maka
yang ada hanya malas,
yakinlah tidak akan
sempurna, seharusnya
mood atau tidak, kerjakan
saja. Justru mood itu
datang saat kita sedang
melakukan suatu kegiatan,
bukan sebelum kegiatan
tersebut akan dilakukan.
Masalah penampakan
mood itu hanya sebuah
alasan sebagai
persembunyian akan rasa
malas tersebut. Jadi
Intinya kerjakan saja dan
selalu berpikiran positif,
semua itu akan membuat
hidup lebih hidup.. Rasa
malas tidak akan pernah
hilang jika kita terus
berpikiran malas dan
hanya menunggu
malasnya hilang. Seperti
slogan salah satu produk
sepatu, Just Do It .!
3. Memiliki Tujuan
Hidup bisa diibaratkan
dengan sebuah kapal laut
dan kitalah nahkodanya.
Kalau seorang nahkoda
tidak punya tujuan dan
tidak mempunyai kejelasan
mau dibawa kemana kapal
tersebut, maka kapak itu
hanya akan terombang-
ambing oleh ombak dan
hanya mengikuti kemana
air mengalir. Dengan
tujuan kita punya impian
dan akan mengerahkan
upaya untuk mencapai
tujuan tersebut sehingga
rasa malas akan
tersingkirkan.
Sangatlah rugi kalau hidup
ini layaknya kapal tadi,
hanya mengikuti kemana
air mengalir, tidak punya
suatu kejelasan. Hidup ini
terlalu berharga untuk
disia-siakan, seperti kata
bijak "masa depan adalah
apa yang kita lakukan
pada hari ini". Terus kalau
kita malas terus bisa
ditebak bagaimana jadinya
masa depan kita. Semakin
banyak yang kita perbuat
semakin nyatalah jati diri
kita. Kemudian untuk
mengatasi malas, kita juga
harus selalu introspeksi
diri sendiri supaya kita
terus memperbaharui diri
dan memperbaiki
kesalahan yang kita
perbuat. Dan jangan lupa
juga untuk selalu
berpikiran ke depan.
Silakan malas malasan
sekarang, tapi kita juga
harus siap dan berani
menanggung akibatnya
suatu saat nanti, khan apa
yang kita tanam itulah
yang akan kita tuai. Ingat,
kitalah pemimpin diri kita
sendiri !.
4. Berdoa
Meskipun dengan
semangat yang menggebu,
banyak membaca, dan
terus mencari cara untuk
menghilangkan malas,
tetap saja kalau tanpa
seizin -Nya, semua itu
tidak akan pernah berhasil.
Supaya kita tidak jadi
orang yang sombong,
banyak - banyaklah berdoa
karena doa merupakan
suatu pengharapan yang
akan membuat kita selalu
termotivasi khususnya
secara psikologis. Kata -
kata yang diucapkan
dalam doa akan menjadi
suatu pemikiran yang
positif bagi kita. Lalu apa
yang kita lakukan setelah
kita berdoa ? jawabnya
adalah ikhtiar. Kita tidak
bisa hanya berdoa saja
tanpa melakukan suatu
upaya. Sebagai wujud
tanggung jawab dari doa
kita adalah kita
bersungguh-sungguh
berusaha mewujudkan
doa tersebut. Setelah itu
barulah kita bertawakkal
yang berarti menyerahkan
setiap urusan kepada -
Nya. Kita harus sadar
bahwa kita itu penuh
dengan keterbatasan, kita
hanya bisa berusaha dan
berdoa sedangkan
Tuhanlah yang berhak
menentukan. Tentunya
supaya doa kita
dikabulkan, syarat mutlak
adalah rajin beribadah..
Perlu diingat bahwa yang
benar-benar ada itu adalah
orang yang rajin dengan
yang malas, bukan yang
pintar dengan yang
bodoh, karena kita itu
semuanya makhluk yang
unggul, coba bayangkan
sebelum kita terlahir ke
dunia ini kita sudah
bersaing dengan berjuta-
juta sperma, dan kitalah
yang keluar sebagai
pemenangnya.
Mungkin masih banyak
cara-cara yang lain, tapi
semoga cara-cara diatas
bisa menghilangkan atau
minimal mengurangi rasa
malas kita. Tapi semuanya
kembali kepada diri kita
sendiri karena rasa malas
akan terus menghantui
kalau kitanya sendiri tidak
pernah ada keinginan kuat
untuk menghilangkannya.
Bagaimana ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar