KEGAGALAN GURU
DALAM MELAKUKAN
EVALUASI SETIAP AKHIR
PROSES PEMBELAJARAN
DALAM KELAS
Kalau kita perhatikan
dunia pendidikan, kita
akan mengetahui bahwa
setiap jenis atau bentuk
pendidikan pada waktu-
waktu tertentu selama
satu periode pendidikan,
selalu mengadakan
evaluasi. Artinya pada
waktu-waktu tertentu
selama satu periode
pendidikan, selalu
mengadakan penilaian
terhadap hasil yang telah
dicapai, baik oleh pihak
terdidik maupun oleh
pendidik.
Demikian pula dalam satu
kali proses pembelajaran,
guru hendaknya menjadi
seorang evaluator yang
baik. Kegiatan ini
dimaksudkan untuk
mengetahui apakah tujuan
yang telah dirumuskan itu
tercapai atau belum, dan
apakah materi pelajaran
yang diajarkan sudah
tepat. Semua pertanyaan
tersebut akan dapat
dijawab melalui kegiatan
evaluasi atau penilaian.
Dengan menelaah
pencapaian tujuan
pengajaran, guru dapat
mengetahui apakah proses
belajar yang dilakukan
cukup efektif memberikan
hasil yang baik dan
memuaskan atau
sebaliknya. Jadi jelaslah
bahwa guru hendaknya
mampu dan terampil
melaksanakan penilaian,
karena dengan penilaian
guru dapat mengetahui
prestasi yang dicapai oleh
siswa setelah ia
melaksanakan proses
belajar.
Dalam fungsinya sebagai
penilai hasil belajar siswa,
guru hendaknya terus
menerus mengikuti hasil
belajar yang telah dicapai
oleh siswa dari waktu ke
waktu. Informasi yang
diperoleh melalui evaluasi
ini merupakan umpan balik
(feed back) terhadap
proses belajar mengajar.
Umpan balik ini akan
dijadikan titik tolak untuk
memperbaiki dan
meningkatkan proses
belajar mengajar
selanjutnya. Dengan
demikian proses belajar
mengajar akan terus dapat
ditingkatkan untuk
memperoleh hasil yang
optimal.
Khusus untuk mata
pelajaran matematika
hampir semua guru telah
melaksanakan evaluasi di
akhir proses belajar
mengajar di dalam kelas.
Namun hasil yang
diperoleh kadang-kadang
kurang memuaskan.
Kadang-kadang hasil yang
dicapai dibawah standar
atau di bawah rata-rata.
Pada mata pelajaran yang
lainnya kadang
dilaksanakan pada akhir
pelajaran, dan ada juga
pada saat proses belajar
mengajar berlangsung.
Kapan waktu pelaksanaan
evaluasi tersebut tidak
menjadi masalah bagi guru
yang penting dalam satu
kali pertemuan ia telah
melaksanakan penilaian
terhadap siswa di kelas.
Tetapi ada juga guru yang
enggan melaksanakan
evaluasi di akhir pelajaran,
karena keterbatasan
waktu, menurut mereka
lebih baik menjelaskan
semua materi pelajaran
sampai tuntas untuk satu
kali pertemuan, dan pada
pertemuan berikutnya di
awal pelajaran siswa diberi
tugas atau soal-soal yang
berhubungan dengan
materi tersebut.
Ada juga guru yang
berpendapat, bahwa
penilaian di akhir pelajaran
tidak mutlak dengan tes
tertulis. Bisa juga dengan
tes lisan atau tanya jawab.
Kegiatan dirasakan lebih
praktis bagi guru, karena
guru tidak usah bersusah
payah mengoreksi hasil
evaluasi anak. Tetapi
kegiatan ini mempunyai
kelemahan yaitu anak
yang suka gugup
walaupun ia mengetahui
jawaban dari soal tersebut,
ia tidak bisa menjawab
dengan tepat karena rasa
gugupnya itu. Dan
kelemahan lain tes lisan
terlalu banyak memakan
waktu dan guru harus
punya banyak persediaan
soal. Tetapi ada juga guru
yang mewakilkan
beberapa orang anak yang
pandai, anak yang kurang
dan beberapa orang anak
yang sedang
kemampuannya utnuk
menjawab beberapa
pertanyaan atau soal yang
berhubungan dengan
materi pelajaran itu.
Cara mana yang akan
digunakan oleh guru untuk
evaluasi tidak usah
dipermasalahkan, yang
jelas setiap guru yang
paham dengan tujuan dan
manfaat dari evaluasi atau
penialaian tersebut.
Karena ada juga guru yang
tidak mengiraukan
tentang kegiatan ini, yang
penting ia masuk kelas,
mengajar, mau ia
laksanakan evaluasi di
akhir pelajaran atau tidak
itu urusannya. Yang jelas
pada akhir semester ia
telah mencapai target
kurikulum.
Akhir-akhir ini kalau kita
teliti di lapangan, banyak
guru yang mengalami
kegagalan dalam
melaksanakan evaluasi di
akhir pelajaran. Hal ini
tentu ada faktor
penyebabnya dan apakah
cara untuk mengatasinya.
Penulisan makalah kritikan
ini bertujuan untuk
mengkritik kegagalan
persekolah oleh guru
dalam melakukan evaluasi
di akhir pelajaran. Mencari
faktor penyebabnya dan
cara untuk mengatasinya.
Dalam makalah kritikan ini
pembatasan masalahnya
adalah :
- Kondisi permasalahan
evaluasi di akhir pelajaran
dipersekolahan pada saat
ini
- Telaah teori/pendapat
ahli
- Kegagalan pelaksanaan
evaluasi di akhir pelajaran
- Kesimpulan kritikan dan
saran
Menurut Drs. Moh. Uzer
Usman dalam bukunya
(Menjadi Guru Profesional
hal 11) menyatakan
bahwa :
Tujuan penilaian adalah :
1. Untuk mengetahui
keberhasilan pencapaian
tujuan
2. Untuk mengetahui
penguasaan siswa
terhadap materi pelajaran
3. Untuk mengetahui
ketepatan metode yang
digunakan
4. Untuk mengetahui
kedudukan siswa di dalam
kelompok/kelas
5. Untuk
mengaklasifikasikan
seorang siswa apakah
termasuk dalam kelompok
yang pandai, sedang,
kurang atau cukup baik
dibandingkan dengan
teman-teman sekelasnya.
Dan menurut buku
Mengukur Hasil Belajar (hal
72-74) yang di susun oleh
Drs. Azhari Zakri
menyatakan evaluasi
bermanfaat bagi guru
untuk :
1. Mengukur kompetensi
atau kapabalitas siswa,
apakah mereka telah
merealisasikan tujuan
yang telah ditentukan.
2. Menentukan tujuan
mana yang belum
direalisasikan sehingga
dapat menentukan
tindakan perbaikan yang
cocok yang dapat
diadakan
3. Memutuskan ranking
siswa, dalam hal
kesuksesan mereka
mencapai tujuan yang
telah disepakati.
4. Memberikan informasi
kepada guru tentang
cocok tidaknya strategi
mengajar yang digunakan.
5. Merencanakan prosedur
untuk memperbaiki
rencana pengajaran dan
menentukan apakah
sumber belajar tambahan
perlu digunakan.
6. Memberikan umpan balik
kepada kita informasi bagi
pengontrolan tentang
sesuai tidaknya
pengorganisasian belajar
dan sumber belajar.
7. Mengetahui dimana
letak hambatan
pencapaian tujuan
tersebut.
Atas dasar ini, faktor yang
paling penting dalam
evaluasi itu bukan pada
pemberian angka.
Melainkan sebagai dasar
feed back (catu balik). Catu
balik itu sendiri sangat
penting dalam rangka
revisi. Sebab proses belajar
mengajar itu kontinyu,
karenanya perlu selalu
melakukan
penyempurnaan dalam
rangkan mengoptimalkan
pencapaian tujuan.
Bila evaluasi merupakan
catu balik sebagai dasar
memperbaiki sistem
pengajaran, sesungguhnya
pelaksanaan evaluasi harus
bersifat kontinyu. Setiap
kali dilaksanakan proses
pangajaran, harus
dievaluasi (formatif).
Sebaliknya bila evaluasi
hanya dilaksanakan di
akhir suatu program
(sumatif) catu balik tidak
banyak berarti, sebab telah
banyak proses terlampaui
tanpa revisi.
Oleh karena itu, agar
evaluasi memberi manfaat
yang besar terhadap
sistem pengajaran
hendaknya dilaksanakan
setiap kali proses belajar
mengajar untuk suatu
topik tertentu. Namun
demikian evaluasi sumatif
pun perlu dilaksanakan
untuk pengembangan
sistem yang lebih luas.
Dari tujuan dan manfaat
evaluasi yang di atas,
masih ada pendapat lain
dari manfaat evaluasi
seperti yang dikemukakan
oleh Noehi Nasution dalam
bukunya Materi Poko
Psikologi Pendidikan hal
167, menjelaskan bahwa
kegiatan penilaian tidak
hanya untuk mengisi
raport anak didik, tetapi
juga untuk :
1. Menseleksi anak didik
2. Menjuruskan anak didi
3. Mengarahkan anak didik
kepada kegiatan yang
lebih sesuai denganpotensi
yang dimilikinya.
4. Membantu orang tua
untuk menentukan hal
yang paling baik untuk
anaknya, untuk membina
dan untuk mempersiapkan
dirinya untuk masa depan
yang lebih baik.
Dari tujuan dan manfaat
evaluasi yang telah
diikemukakan oleh para
ahli di atas, yang penting
dengan mengadakan
evaluasi sebagai guru
dapat mengetahui
kelemahan-kelemahan atau
kekurangannya dalan
menyampaikan materi
pelajaran. Sehingga ia
dapat menata kembali atau
menggunakan strategi
baru dalam proses
pembelajaran sehingga
akan mendapatkan hasil
yang lebih baik dari
sebelumnya.
Di dalam telaah teori dan
berdasarkan pendapat
para ahli, telah
mencantumkan tujuan
serta manfaat evaluasi di
akhir pelajaran. Selain
menilai hasil belajar murid,
evaluasi juga menilai hasil
mengajar guru dengan
kata lain, guru dapat
menilai dirinya sendiri
dimana kekurangan dan
kelemahannya dalam
mengajar, sehingga
memperoleh hasil yang
sesuai dengan apa yang
diharapkan.
Jika dalam suatu kegiatan
belajar, tujuan sudah
diidentifikasi, biasanya
dapat disusun suatu ters
atau ujian yang akan
digunakan untuk
menentukan apakah
tujuan tersebut dicapai
atau tidak. Mager pernah
mengatakan bahwa jika
kita mempelajari dengan
teliti semua tahap yang
telah dibicarakan sampai
saat ini, maka siswa sudah
harus dapat melakukan
apa yang telah
direncanakan untuk
mereka lakukan. Hasil dari
penialaian dapat
mendorong guru untuk
memperbaiki keterampilan
profesional mereka, dan
juga membantu mereka
mendapat pasilitas serta
sumber belajar yang lebih
baik.
Di dalam suatu tes belajar,
sebagian besar nilai
berdistribusi normal (yakni
beberapa murid hasilnya
baik, beberapa buruk,
tetapi sebagian besar
menunjukkan rata-rata).
Dalam ter kriteria, sebagian
tes berada di bagian atas.
Hal ini lumrah, karena jika
seorang guru memberikan
tujuan yang berjumlah 10,
misalnya, maka ia akan
kecewa jika para siswa
hanya merealisasikan 50%
saja.
Tes dan ujian yang
mengukur pencapaian
tujuan, belum mendapat
perhatian yang serius oleh
guru dan instruktur,
kecuali akhir-akhir ini.
Program pendidikan dan
latihan sebelum ini telah
dianggap sudah berhasil
tanpa perlu ada evaluasi.
Sikap ini disebabkan oleh
empat kesulitan utama
yakni :
1. Tidak adanya kerangka
konseptual yang sesuai
bagi evaluasi.
2. Kurangnya ketepatan
dalam perumusan tujuan
dalam pendidikan
3. Kesulitan yang meliputi
pengukuran pendidikan
4. Sifat program
pendidikan itu sendiri.
Namun dengan adanya
investasi besar-besaran
dalam pendidikan, telah
dirasakan kebutuhan akan
suatu bentuk evaluasi.
Evaluasi dapat mengambil
dua macam bentuk :
1. Ia dapat menilai cara
mengajar seorang guru
(dengan mengukur
variabel-variabel seperti
suatu kebiasaan-
kebiasaan, humor,
kepribadian, penggunaan
papan tulis, teknik
bertanya, aktivitas kelas,
alat bantu audiovisual,
strategi mengajar dan lain-
lain.
2. Ia dapat menilai hasil
belajar (yakni pencapaian
tujuan belajar.
Selama ini guru
mengadakan penilaian
hanya untuk mencari
angka atau nilai untuk
anak didik. Apabila anak
banyak memperoleh nilai
dibawah 6 (enam), maka
guru menganggap bahwa
anak didiklah yang gagal
dalam menyerap materi
pelajaran atau materi
pelajaran terlalu berat,
sehingga sukar dipahami
oleh anak. Kalau anak yang
memperoleh nilai dibawah
6 mencapai 50% dari
jumlah anak, hal ini sudah
merupakan kegagalan
guru dalam melaksanakan
evaluasi di akhir pelajaran.
Apa penyebab hal ini bisa
terjadi ?
1. Guru kurang menguasi
materi pelajaran.
Sehingga dalam
menyampaikan materi
pelajaran kepada anak
kalimatnya sering
terputus-putus ataupun
berbelit-belit yang
menyebabkan anak
menjadi bingung dan
sukar mencerna apa yang
disampaikan oleh guru
tersebut.
Tentu saja di akhir
pelajaran mareka
kewalahan menjawab
pertanyaan atau tidak
mampu mengerjakan
tugas yang diberikan. Dan
akhirnya nilai yang
diperoleh jauh dari apa
yang diharapkan.
2. Guru kurang menguasai
kelas,
Guru yang kurang mampu
menguasai kelas mendapat
hambatan dalam
menyampaikan materi
pelajaran, hal ini
dikarenakan suasana kelas
yang tidak menunjang
membuat anak yang betul-
betul ingin belajar menjadi
terganggu.
3. Guru enggan
mempergunakan alat
peraga dalam mengajar.
Kebiasaan guru yang tidak
mempergunakan alat
peraga memaksa anak
untuk berpikir verbal
sehingga membuat anak
sulit dalam memahami
pelajaran dan otomatis
dalam evaluasi di akhir
pelajaran nilai anak
menjadi jatuh.
4. Guru kurang mampu
memotivasi anak dalam
belajar sehingga dalam
menyampaikan materi
pelajaran, anak kurang
menaruh perhatian
terhadap materi yang
disampaikan oleh guru,
sehingga ilmu yang
terkandung di dalam
materi yang disampaikan
itu berlalu begitu saja
tanpa ada perhatian
khusus dari anak didik.
5. Guru menyamaratkan
kemampuan anak di dalam
menyerap pelajaran.
Setiap anak didik
mempunyai kemampuan
yang berbeda dalam
menyerap materi
pelajaran. Guru yang
kurang tangkap tidak
mengetahui bahwa ada
anak didinya yang daya
serapnya di bawah rata-
rata mengalami kesulitan
dalam belajar.
6. Guru kurang disiplin
dalam mengatur waktu.
Waktu yang tertulis dalam
jadwal pelajaran, tidak
sesuai dengan praktek
pelaksanaannya,. Waktu
untuk memulai pelajaran
selalu telat, tetapi waktu
istirahat dan jam pulang
selalu tepat atau tidak
pernah telat.
7. Guru enggan membuat
persiapan mengajar atau
setidaknya menyusun
langkah-langkah dalam
mengajar, yang disertai
dengan ketentuan-
ketentuan waktu untuk
mengawali pelajaran,
waktu untuk kegiatan
proses dan ketentuan
waktu untuk akhir
pelajaran.
8. Guru tidak mempunyai
kemajuan untuk
nemambah atau menimba
ilmu misalnya membaca
buku atau bertukar pikiran
dengan rekan guru yang
lebih senior dan
profesional guna
menambah wawasannya.
9. Dalam tes lisan di akhir
pelajaran, guru kurang
trampil mengajukan
pertanyaan kepada murid,
sehingga murid kurang
memahami tentang apa
yang dimaksud oleh guru.
10. Guru selalu
mengutamakan
pencapaian target
kurikulum.
Guru jarang
memperhatikan atau
menganalisa berapa
persen daya serap anak
terhadap materi pelajaran
tersebut
DAFTAR PUSTAKA
Uzer Usman, Mohd. Menjadi
Guru Profesional
Mengukur Hasil Belajar,
bahan ajar yang disusun
oleh Drs. Azhari Zakri
Dosen FKIP UNRI
Nasution, Noehi. Materi
Pokok Psikologi Pendidikan
Guru dan Proses Belajar
Mengajar. Bahan ajar yang
disusun oleh Drs. Azhari
Zakri dosen FKIP UNRI
Kamis, 04 November 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Kamis, 04 November 2010
guru kurang tanggap
KEGAGALAN GURU
DALAM MELAKUKAN
EVALUASI SETIAP AKHIR
PROSES PEMBELAJARAN
DALAM KELAS
Kalau kita perhatikan
dunia pendidikan, kita
akan mengetahui bahwa
setiap jenis atau bentuk
pendidikan pada waktu-
waktu tertentu selama
satu periode pendidikan,
selalu mengadakan
evaluasi. Artinya pada
waktu-waktu tertentu
selama satu periode
pendidikan, selalu
mengadakan penilaian
terhadap hasil yang telah
dicapai, baik oleh pihak
terdidik maupun oleh
pendidik.
Demikian pula dalam satu
kali proses pembelajaran,
guru hendaknya menjadi
seorang evaluator yang
baik. Kegiatan ini
dimaksudkan untuk
mengetahui apakah tujuan
yang telah dirumuskan itu
tercapai atau belum, dan
apakah materi pelajaran
yang diajarkan sudah
tepat. Semua pertanyaan
tersebut akan dapat
dijawab melalui kegiatan
evaluasi atau penilaian.
Dengan menelaah
pencapaian tujuan
pengajaran, guru dapat
mengetahui apakah proses
belajar yang dilakukan
cukup efektif memberikan
hasil yang baik dan
memuaskan atau
sebaliknya. Jadi jelaslah
bahwa guru hendaknya
mampu dan terampil
melaksanakan penilaian,
karena dengan penilaian
guru dapat mengetahui
prestasi yang dicapai oleh
siswa setelah ia
melaksanakan proses
belajar.
Dalam fungsinya sebagai
penilai hasil belajar siswa,
guru hendaknya terus
menerus mengikuti hasil
belajar yang telah dicapai
oleh siswa dari waktu ke
waktu. Informasi yang
diperoleh melalui evaluasi
ini merupakan umpan balik
(feed back) terhadap
proses belajar mengajar.
Umpan balik ini akan
dijadikan titik tolak untuk
memperbaiki dan
meningkatkan proses
belajar mengajar
selanjutnya. Dengan
demikian proses belajar
mengajar akan terus dapat
ditingkatkan untuk
memperoleh hasil yang
optimal.
Khusus untuk mata
pelajaran matematika
hampir semua guru telah
melaksanakan evaluasi di
akhir proses belajar
mengajar di dalam kelas.
Namun hasil yang
diperoleh kadang-kadang
kurang memuaskan.
Kadang-kadang hasil yang
dicapai dibawah standar
atau di bawah rata-rata.
Pada mata pelajaran yang
lainnya kadang
dilaksanakan pada akhir
pelajaran, dan ada juga
pada saat proses belajar
mengajar berlangsung.
Kapan waktu pelaksanaan
evaluasi tersebut tidak
menjadi masalah bagi guru
yang penting dalam satu
kali pertemuan ia telah
melaksanakan penilaian
terhadap siswa di kelas.
Tetapi ada juga guru yang
enggan melaksanakan
evaluasi di akhir pelajaran,
karena keterbatasan
waktu, menurut mereka
lebih baik menjelaskan
semua materi pelajaran
sampai tuntas untuk satu
kali pertemuan, dan pada
pertemuan berikutnya di
awal pelajaran siswa diberi
tugas atau soal-soal yang
berhubungan dengan
materi tersebut.
Ada juga guru yang
berpendapat, bahwa
penilaian di akhir pelajaran
tidak mutlak dengan tes
tertulis. Bisa juga dengan
tes lisan atau tanya jawab.
Kegiatan dirasakan lebih
praktis bagi guru, karena
guru tidak usah bersusah
payah mengoreksi hasil
evaluasi anak. Tetapi
kegiatan ini mempunyai
kelemahan yaitu anak
yang suka gugup
walaupun ia mengetahui
jawaban dari soal tersebut,
ia tidak bisa menjawab
dengan tepat karena rasa
gugupnya itu. Dan
kelemahan lain tes lisan
terlalu banyak memakan
waktu dan guru harus
punya banyak persediaan
soal. Tetapi ada juga guru
yang mewakilkan
beberapa orang anak yang
pandai, anak yang kurang
dan beberapa orang anak
yang sedang
kemampuannya utnuk
menjawab beberapa
pertanyaan atau soal yang
berhubungan dengan
materi pelajaran itu.
Cara mana yang akan
digunakan oleh guru untuk
evaluasi tidak usah
dipermasalahkan, yang
jelas setiap guru yang
paham dengan tujuan dan
manfaat dari evaluasi atau
penialaian tersebut.
Karena ada juga guru yang
tidak mengiraukan
tentang kegiatan ini, yang
penting ia masuk kelas,
mengajar, mau ia
laksanakan evaluasi di
akhir pelajaran atau tidak
itu urusannya. Yang jelas
pada akhir semester ia
telah mencapai target
kurikulum.
Akhir-akhir ini kalau kita
teliti di lapangan, banyak
guru yang mengalami
kegagalan dalam
melaksanakan evaluasi di
akhir pelajaran. Hal ini
tentu ada faktor
penyebabnya dan apakah
cara untuk mengatasinya.
Penulisan makalah kritikan
ini bertujuan untuk
mengkritik kegagalan
persekolah oleh guru
dalam melakukan evaluasi
di akhir pelajaran. Mencari
faktor penyebabnya dan
cara untuk mengatasinya.
Dalam makalah kritikan ini
pembatasan masalahnya
adalah :
- Kondisi permasalahan
evaluasi di akhir pelajaran
dipersekolahan pada saat
ini
- Telaah teori/pendapat
ahli
- Kegagalan pelaksanaan
evaluasi di akhir pelajaran
- Kesimpulan kritikan dan
saran
Menurut Drs. Moh. Uzer
Usman dalam bukunya
(Menjadi Guru Profesional
hal 11) menyatakan
bahwa :
Tujuan penilaian adalah :
1. Untuk mengetahui
keberhasilan pencapaian
tujuan
2. Untuk mengetahui
penguasaan siswa
terhadap materi pelajaran
3. Untuk mengetahui
ketepatan metode yang
digunakan
4. Untuk mengetahui
kedudukan siswa di dalam
kelompok/kelas
5. Untuk
mengaklasifikasikan
seorang siswa apakah
termasuk dalam kelompok
yang pandai, sedang,
kurang atau cukup baik
dibandingkan dengan
teman-teman sekelasnya.
Dan menurut buku
Mengukur Hasil Belajar (hal
72-74) yang di susun oleh
Drs. Azhari Zakri
menyatakan evaluasi
bermanfaat bagi guru
untuk :
1. Mengukur kompetensi
atau kapabalitas siswa,
apakah mereka telah
merealisasikan tujuan
yang telah ditentukan.
2. Menentukan tujuan
mana yang belum
direalisasikan sehingga
dapat menentukan
tindakan perbaikan yang
cocok yang dapat
diadakan
3. Memutuskan ranking
siswa, dalam hal
kesuksesan mereka
mencapai tujuan yang
telah disepakati.
4. Memberikan informasi
kepada guru tentang
cocok tidaknya strategi
mengajar yang digunakan.
5. Merencanakan prosedur
untuk memperbaiki
rencana pengajaran dan
menentukan apakah
sumber belajar tambahan
perlu digunakan.
6. Memberikan umpan balik
kepada kita informasi bagi
pengontrolan tentang
sesuai tidaknya
pengorganisasian belajar
dan sumber belajar.
7. Mengetahui dimana
letak hambatan
pencapaian tujuan
tersebut.
Atas dasar ini, faktor yang
paling penting dalam
evaluasi itu bukan pada
pemberian angka.
Melainkan sebagai dasar
feed back (catu balik). Catu
balik itu sendiri sangat
penting dalam rangka
revisi. Sebab proses belajar
mengajar itu kontinyu,
karenanya perlu selalu
melakukan
penyempurnaan dalam
rangkan mengoptimalkan
pencapaian tujuan.
Bila evaluasi merupakan
catu balik sebagai dasar
memperbaiki sistem
pengajaran, sesungguhnya
pelaksanaan evaluasi harus
bersifat kontinyu. Setiap
kali dilaksanakan proses
pangajaran, harus
dievaluasi (formatif).
Sebaliknya bila evaluasi
hanya dilaksanakan di
akhir suatu program
(sumatif) catu balik tidak
banyak berarti, sebab telah
banyak proses terlampaui
tanpa revisi.
Oleh karena itu, agar
evaluasi memberi manfaat
yang besar terhadap
sistem pengajaran
hendaknya dilaksanakan
setiap kali proses belajar
mengajar untuk suatu
topik tertentu. Namun
demikian evaluasi sumatif
pun perlu dilaksanakan
untuk pengembangan
sistem yang lebih luas.
Dari tujuan dan manfaat
evaluasi yang di atas,
masih ada pendapat lain
dari manfaat evaluasi
seperti yang dikemukakan
oleh Noehi Nasution dalam
bukunya Materi Poko
Psikologi Pendidikan hal
167, menjelaskan bahwa
kegiatan penilaian tidak
hanya untuk mengisi
raport anak didik, tetapi
juga untuk :
1. Menseleksi anak didik
2. Menjuruskan anak didi
3. Mengarahkan anak didik
kepada kegiatan yang
lebih sesuai denganpotensi
yang dimilikinya.
4. Membantu orang tua
untuk menentukan hal
yang paling baik untuk
anaknya, untuk membina
dan untuk mempersiapkan
dirinya untuk masa depan
yang lebih baik.
Dari tujuan dan manfaat
evaluasi yang telah
diikemukakan oleh para
ahli di atas, yang penting
dengan mengadakan
evaluasi sebagai guru
dapat mengetahui
kelemahan-kelemahan atau
kekurangannya dalan
menyampaikan materi
pelajaran. Sehingga ia
dapat menata kembali atau
menggunakan strategi
baru dalam proses
pembelajaran sehingga
akan mendapatkan hasil
yang lebih baik dari
sebelumnya.
Di dalam telaah teori dan
berdasarkan pendapat
para ahli, telah
mencantumkan tujuan
serta manfaat evaluasi di
akhir pelajaran. Selain
menilai hasil belajar murid,
evaluasi juga menilai hasil
mengajar guru dengan
kata lain, guru dapat
menilai dirinya sendiri
dimana kekurangan dan
kelemahannya dalam
mengajar, sehingga
memperoleh hasil yang
sesuai dengan apa yang
diharapkan.
Jika dalam suatu kegiatan
belajar, tujuan sudah
diidentifikasi, biasanya
dapat disusun suatu ters
atau ujian yang akan
digunakan untuk
menentukan apakah
tujuan tersebut dicapai
atau tidak. Mager pernah
mengatakan bahwa jika
kita mempelajari dengan
teliti semua tahap yang
telah dibicarakan sampai
saat ini, maka siswa sudah
harus dapat melakukan
apa yang telah
direncanakan untuk
mereka lakukan. Hasil dari
penialaian dapat
mendorong guru untuk
memperbaiki keterampilan
profesional mereka, dan
juga membantu mereka
mendapat pasilitas serta
sumber belajar yang lebih
baik.
Di dalam suatu tes belajar,
sebagian besar nilai
berdistribusi normal (yakni
beberapa murid hasilnya
baik, beberapa buruk,
tetapi sebagian besar
menunjukkan rata-rata).
Dalam ter kriteria, sebagian
tes berada di bagian atas.
Hal ini lumrah, karena jika
seorang guru memberikan
tujuan yang berjumlah 10,
misalnya, maka ia akan
kecewa jika para siswa
hanya merealisasikan 50%
saja.
Tes dan ujian yang
mengukur pencapaian
tujuan, belum mendapat
perhatian yang serius oleh
guru dan instruktur,
kecuali akhir-akhir ini.
Program pendidikan dan
latihan sebelum ini telah
dianggap sudah berhasil
tanpa perlu ada evaluasi.
Sikap ini disebabkan oleh
empat kesulitan utama
yakni :
1. Tidak adanya kerangka
konseptual yang sesuai
bagi evaluasi.
2. Kurangnya ketepatan
dalam perumusan tujuan
dalam pendidikan
3. Kesulitan yang meliputi
pengukuran pendidikan
4. Sifat program
pendidikan itu sendiri.
Namun dengan adanya
investasi besar-besaran
dalam pendidikan, telah
dirasakan kebutuhan akan
suatu bentuk evaluasi.
Evaluasi dapat mengambil
dua macam bentuk :
1. Ia dapat menilai cara
mengajar seorang guru
(dengan mengukur
variabel-variabel seperti
suatu kebiasaan-
kebiasaan, humor,
kepribadian, penggunaan
papan tulis, teknik
bertanya, aktivitas kelas,
alat bantu audiovisual,
strategi mengajar dan lain-
lain.
2. Ia dapat menilai hasil
belajar (yakni pencapaian
tujuan belajar.
Selama ini guru
mengadakan penilaian
hanya untuk mencari
angka atau nilai untuk
anak didik. Apabila anak
banyak memperoleh nilai
dibawah 6 (enam), maka
guru menganggap bahwa
anak didiklah yang gagal
dalam menyerap materi
pelajaran atau materi
pelajaran terlalu berat,
sehingga sukar dipahami
oleh anak. Kalau anak yang
memperoleh nilai dibawah
6 mencapai 50% dari
jumlah anak, hal ini sudah
merupakan kegagalan
guru dalam melaksanakan
evaluasi di akhir pelajaran.
Apa penyebab hal ini bisa
terjadi ?
1. Guru kurang menguasi
materi pelajaran.
Sehingga dalam
menyampaikan materi
pelajaran kepada anak
kalimatnya sering
terputus-putus ataupun
berbelit-belit yang
menyebabkan anak
menjadi bingung dan
sukar mencerna apa yang
disampaikan oleh guru
tersebut.
Tentu saja di akhir
pelajaran mareka
kewalahan menjawab
pertanyaan atau tidak
mampu mengerjakan
tugas yang diberikan. Dan
akhirnya nilai yang
diperoleh jauh dari apa
yang diharapkan.
2. Guru kurang menguasai
kelas,
Guru yang kurang mampu
menguasai kelas mendapat
hambatan dalam
menyampaikan materi
pelajaran, hal ini
dikarenakan suasana kelas
yang tidak menunjang
membuat anak yang betul-
betul ingin belajar menjadi
terganggu.
3. Guru enggan
mempergunakan alat
peraga dalam mengajar.
Kebiasaan guru yang tidak
mempergunakan alat
peraga memaksa anak
untuk berpikir verbal
sehingga membuat anak
sulit dalam memahami
pelajaran dan otomatis
dalam evaluasi di akhir
pelajaran nilai anak
menjadi jatuh.
4. Guru kurang mampu
memotivasi anak dalam
belajar sehingga dalam
menyampaikan materi
pelajaran, anak kurang
menaruh perhatian
terhadap materi yang
disampaikan oleh guru,
sehingga ilmu yang
terkandung di dalam
materi yang disampaikan
itu berlalu begitu saja
tanpa ada perhatian
khusus dari anak didik.
5. Guru menyamaratkan
kemampuan anak di dalam
menyerap pelajaran.
Setiap anak didik
mempunyai kemampuan
yang berbeda dalam
menyerap materi
pelajaran. Guru yang
kurang tangkap tidak
mengetahui bahwa ada
anak didinya yang daya
serapnya di bawah rata-
rata mengalami kesulitan
dalam belajar.
6. Guru kurang disiplin
dalam mengatur waktu.
Waktu yang tertulis dalam
jadwal pelajaran, tidak
sesuai dengan praktek
pelaksanaannya,. Waktu
untuk memulai pelajaran
selalu telat, tetapi waktu
istirahat dan jam pulang
selalu tepat atau tidak
pernah telat.
7. Guru enggan membuat
persiapan mengajar atau
setidaknya menyusun
langkah-langkah dalam
mengajar, yang disertai
dengan ketentuan-
ketentuan waktu untuk
mengawali pelajaran,
waktu untuk kegiatan
proses dan ketentuan
waktu untuk akhir
pelajaran.
8. Guru tidak mempunyai
kemajuan untuk
nemambah atau menimba
ilmu misalnya membaca
buku atau bertukar pikiran
dengan rekan guru yang
lebih senior dan
profesional guna
menambah wawasannya.
9. Dalam tes lisan di akhir
pelajaran, guru kurang
trampil mengajukan
pertanyaan kepada murid,
sehingga murid kurang
memahami tentang apa
yang dimaksud oleh guru.
10. Guru selalu
mengutamakan
pencapaian target
kurikulum.
Guru jarang
memperhatikan atau
menganalisa berapa
persen daya serap anak
terhadap materi pelajaran
tersebut
DAFTAR PUSTAKA
Uzer Usman, Mohd. Menjadi
Guru Profesional
Mengukur Hasil Belajar,
bahan ajar yang disusun
oleh Drs. Azhari Zakri
Dosen FKIP UNRI
Nasution, Noehi. Materi
Pokok Psikologi Pendidikan
Guru dan Proses Belajar
Mengajar. Bahan ajar yang
disusun oleh Drs. Azhari
Zakri dosen FKIP UNRI
DALAM MELAKUKAN
EVALUASI SETIAP AKHIR
PROSES PEMBELAJARAN
DALAM KELAS
Kalau kita perhatikan
dunia pendidikan, kita
akan mengetahui bahwa
setiap jenis atau bentuk
pendidikan pada waktu-
waktu tertentu selama
satu periode pendidikan,
selalu mengadakan
evaluasi. Artinya pada
waktu-waktu tertentu
selama satu periode
pendidikan, selalu
mengadakan penilaian
terhadap hasil yang telah
dicapai, baik oleh pihak
terdidik maupun oleh
pendidik.
Demikian pula dalam satu
kali proses pembelajaran,
guru hendaknya menjadi
seorang evaluator yang
baik. Kegiatan ini
dimaksudkan untuk
mengetahui apakah tujuan
yang telah dirumuskan itu
tercapai atau belum, dan
apakah materi pelajaran
yang diajarkan sudah
tepat. Semua pertanyaan
tersebut akan dapat
dijawab melalui kegiatan
evaluasi atau penilaian.
Dengan menelaah
pencapaian tujuan
pengajaran, guru dapat
mengetahui apakah proses
belajar yang dilakukan
cukup efektif memberikan
hasil yang baik dan
memuaskan atau
sebaliknya. Jadi jelaslah
bahwa guru hendaknya
mampu dan terampil
melaksanakan penilaian,
karena dengan penilaian
guru dapat mengetahui
prestasi yang dicapai oleh
siswa setelah ia
melaksanakan proses
belajar.
Dalam fungsinya sebagai
penilai hasil belajar siswa,
guru hendaknya terus
menerus mengikuti hasil
belajar yang telah dicapai
oleh siswa dari waktu ke
waktu. Informasi yang
diperoleh melalui evaluasi
ini merupakan umpan balik
(feed back) terhadap
proses belajar mengajar.
Umpan balik ini akan
dijadikan titik tolak untuk
memperbaiki dan
meningkatkan proses
belajar mengajar
selanjutnya. Dengan
demikian proses belajar
mengajar akan terus dapat
ditingkatkan untuk
memperoleh hasil yang
optimal.
Khusus untuk mata
pelajaran matematika
hampir semua guru telah
melaksanakan evaluasi di
akhir proses belajar
mengajar di dalam kelas.
Namun hasil yang
diperoleh kadang-kadang
kurang memuaskan.
Kadang-kadang hasil yang
dicapai dibawah standar
atau di bawah rata-rata.
Pada mata pelajaran yang
lainnya kadang
dilaksanakan pada akhir
pelajaran, dan ada juga
pada saat proses belajar
mengajar berlangsung.
Kapan waktu pelaksanaan
evaluasi tersebut tidak
menjadi masalah bagi guru
yang penting dalam satu
kali pertemuan ia telah
melaksanakan penilaian
terhadap siswa di kelas.
Tetapi ada juga guru yang
enggan melaksanakan
evaluasi di akhir pelajaran,
karena keterbatasan
waktu, menurut mereka
lebih baik menjelaskan
semua materi pelajaran
sampai tuntas untuk satu
kali pertemuan, dan pada
pertemuan berikutnya di
awal pelajaran siswa diberi
tugas atau soal-soal yang
berhubungan dengan
materi tersebut.
Ada juga guru yang
berpendapat, bahwa
penilaian di akhir pelajaran
tidak mutlak dengan tes
tertulis. Bisa juga dengan
tes lisan atau tanya jawab.
Kegiatan dirasakan lebih
praktis bagi guru, karena
guru tidak usah bersusah
payah mengoreksi hasil
evaluasi anak. Tetapi
kegiatan ini mempunyai
kelemahan yaitu anak
yang suka gugup
walaupun ia mengetahui
jawaban dari soal tersebut,
ia tidak bisa menjawab
dengan tepat karena rasa
gugupnya itu. Dan
kelemahan lain tes lisan
terlalu banyak memakan
waktu dan guru harus
punya banyak persediaan
soal. Tetapi ada juga guru
yang mewakilkan
beberapa orang anak yang
pandai, anak yang kurang
dan beberapa orang anak
yang sedang
kemampuannya utnuk
menjawab beberapa
pertanyaan atau soal yang
berhubungan dengan
materi pelajaran itu.
Cara mana yang akan
digunakan oleh guru untuk
evaluasi tidak usah
dipermasalahkan, yang
jelas setiap guru yang
paham dengan tujuan dan
manfaat dari evaluasi atau
penialaian tersebut.
Karena ada juga guru yang
tidak mengiraukan
tentang kegiatan ini, yang
penting ia masuk kelas,
mengajar, mau ia
laksanakan evaluasi di
akhir pelajaran atau tidak
itu urusannya. Yang jelas
pada akhir semester ia
telah mencapai target
kurikulum.
Akhir-akhir ini kalau kita
teliti di lapangan, banyak
guru yang mengalami
kegagalan dalam
melaksanakan evaluasi di
akhir pelajaran. Hal ini
tentu ada faktor
penyebabnya dan apakah
cara untuk mengatasinya.
Penulisan makalah kritikan
ini bertujuan untuk
mengkritik kegagalan
persekolah oleh guru
dalam melakukan evaluasi
di akhir pelajaran. Mencari
faktor penyebabnya dan
cara untuk mengatasinya.
Dalam makalah kritikan ini
pembatasan masalahnya
adalah :
- Kondisi permasalahan
evaluasi di akhir pelajaran
dipersekolahan pada saat
ini
- Telaah teori/pendapat
ahli
- Kegagalan pelaksanaan
evaluasi di akhir pelajaran
- Kesimpulan kritikan dan
saran
Menurut Drs. Moh. Uzer
Usman dalam bukunya
(Menjadi Guru Profesional
hal 11) menyatakan
bahwa :
Tujuan penilaian adalah :
1. Untuk mengetahui
keberhasilan pencapaian
tujuan
2. Untuk mengetahui
penguasaan siswa
terhadap materi pelajaran
3. Untuk mengetahui
ketepatan metode yang
digunakan
4. Untuk mengetahui
kedudukan siswa di dalam
kelompok/kelas
5. Untuk
mengaklasifikasikan
seorang siswa apakah
termasuk dalam kelompok
yang pandai, sedang,
kurang atau cukup baik
dibandingkan dengan
teman-teman sekelasnya.
Dan menurut buku
Mengukur Hasil Belajar (hal
72-74) yang di susun oleh
Drs. Azhari Zakri
menyatakan evaluasi
bermanfaat bagi guru
untuk :
1. Mengukur kompetensi
atau kapabalitas siswa,
apakah mereka telah
merealisasikan tujuan
yang telah ditentukan.
2. Menentukan tujuan
mana yang belum
direalisasikan sehingga
dapat menentukan
tindakan perbaikan yang
cocok yang dapat
diadakan
3. Memutuskan ranking
siswa, dalam hal
kesuksesan mereka
mencapai tujuan yang
telah disepakati.
4. Memberikan informasi
kepada guru tentang
cocok tidaknya strategi
mengajar yang digunakan.
5. Merencanakan prosedur
untuk memperbaiki
rencana pengajaran dan
menentukan apakah
sumber belajar tambahan
perlu digunakan.
6. Memberikan umpan balik
kepada kita informasi bagi
pengontrolan tentang
sesuai tidaknya
pengorganisasian belajar
dan sumber belajar.
7. Mengetahui dimana
letak hambatan
pencapaian tujuan
tersebut.
Atas dasar ini, faktor yang
paling penting dalam
evaluasi itu bukan pada
pemberian angka.
Melainkan sebagai dasar
feed back (catu balik). Catu
balik itu sendiri sangat
penting dalam rangka
revisi. Sebab proses belajar
mengajar itu kontinyu,
karenanya perlu selalu
melakukan
penyempurnaan dalam
rangkan mengoptimalkan
pencapaian tujuan.
Bila evaluasi merupakan
catu balik sebagai dasar
memperbaiki sistem
pengajaran, sesungguhnya
pelaksanaan evaluasi harus
bersifat kontinyu. Setiap
kali dilaksanakan proses
pangajaran, harus
dievaluasi (formatif).
Sebaliknya bila evaluasi
hanya dilaksanakan di
akhir suatu program
(sumatif) catu balik tidak
banyak berarti, sebab telah
banyak proses terlampaui
tanpa revisi.
Oleh karena itu, agar
evaluasi memberi manfaat
yang besar terhadap
sistem pengajaran
hendaknya dilaksanakan
setiap kali proses belajar
mengajar untuk suatu
topik tertentu. Namun
demikian evaluasi sumatif
pun perlu dilaksanakan
untuk pengembangan
sistem yang lebih luas.
Dari tujuan dan manfaat
evaluasi yang di atas,
masih ada pendapat lain
dari manfaat evaluasi
seperti yang dikemukakan
oleh Noehi Nasution dalam
bukunya Materi Poko
Psikologi Pendidikan hal
167, menjelaskan bahwa
kegiatan penilaian tidak
hanya untuk mengisi
raport anak didik, tetapi
juga untuk :
1. Menseleksi anak didik
2. Menjuruskan anak didi
3. Mengarahkan anak didik
kepada kegiatan yang
lebih sesuai denganpotensi
yang dimilikinya.
4. Membantu orang tua
untuk menentukan hal
yang paling baik untuk
anaknya, untuk membina
dan untuk mempersiapkan
dirinya untuk masa depan
yang lebih baik.
Dari tujuan dan manfaat
evaluasi yang telah
diikemukakan oleh para
ahli di atas, yang penting
dengan mengadakan
evaluasi sebagai guru
dapat mengetahui
kelemahan-kelemahan atau
kekurangannya dalan
menyampaikan materi
pelajaran. Sehingga ia
dapat menata kembali atau
menggunakan strategi
baru dalam proses
pembelajaran sehingga
akan mendapatkan hasil
yang lebih baik dari
sebelumnya.
Di dalam telaah teori dan
berdasarkan pendapat
para ahli, telah
mencantumkan tujuan
serta manfaat evaluasi di
akhir pelajaran. Selain
menilai hasil belajar murid,
evaluasi juga menilai hasil
mengajar guru dengan
kata lain, guru dapat
menilai dirinya sendiri
dimana kekurangan dan
kelemahannya dalam
mengajar, sehingga
memperoleh hasil yang
sesuai dengan apa yang
diharapkan.
Jika dalam suatu kegiatan
belajar, tujuan sudah
diidentifikasi, biasanya
dapat disusun suatu ters
atau ujian yang akan
digunakan untuk
menentukan apakah
tujuan tersebut dicapai
atau tidak. Mager pernah
mengatakan bahwa jika
kita mempelajari dengan
teliti semua tahap yang
telah dibicarakan sampai
saat ini, maka siswa sudah
harus dapat melakukan
apa yang telah
direncanakan untuk
mereka lakukan. Hasil dari
penialaian dapat
mendorong guru untuk
memperbaiki keterampilan
profesional mereka, dan
juga membantu mereka
mendapat pasilitas serta
sumber belajar yang lebih
baik.
Di dalam suatu tes belajar,
sebagian besar nilai
berdistribusi normal (yakni
beberapa murid hasilnya
baik, beberapa buruk,
tetapi sebagian besar
menunjukkan rata-rata).
Dalam ter kriteria, sebagian
tes berada di bagian atas.
Hal ini lumrah, karena jika
seorang guru memberikan
tujuan yang berjumlah 10,
misalnya, maka ia akan
kecewa jika para siswa
hanya merealisasikan 50%
saja.
Tes dan ujian yang
mengukur pencapaian
tujuan, belum mendapat
perhatian yang serius oleh
guru dan instruktur,
kecuali akhir-akhir ini.
Program pendidikan dan
latihan sebelum ini telah
dianggap sudah berhasil
tanpa perlu ada evaluasi.
Sikap ini disebabkan oleh
empat kesulitan utama
yakni :
1. Tidak adanya kerangka
konseptual yang sesuai
bagi evaluasi.
2. Kurangnya ketepatan
dalam perumusan tujuan
dalam pendidikan
3. Kesulitan yang meliputi
pengukuran pendidikan
4. Sifat program
pendidikan itu sendiri.
Namun dengan adanya
investasi besar-besaran
dalam pendidikan, telah
dirasakan kebutuhan akan
suatu bentuk evaluasi.
Evaluasi dapat mengambil
dua macam bentuk :
1. Ia dapat menilai cara
mengajar seorang guru
(dengan mengukur
variabel-variabel seperti
suatu kebiasaan-
kebiasaan, humor,
kepribadian, penggunaan
papan tulis, teknik
bertanya, aktivitas kelas,
alat bantu audiovisual,
strategi mengajar dan lain-
lain.
2. Ia dapat menilai hasil
belajar (yakni pencapaian
tujuan belajar.
Selama ini guru
mengadakan penilaian
hanya untuk mencari
angka atau nilai untuk
anak didik. Apabila anak
banyak memperoleh nilai
dibawah 6 (enam), maka
guru menganggap bahwa
anak didiklah yang gagal
dalam menyerap materi
pelajaran atau materi
pelajaran terlalu berat,
sehingga sukar dipahami
oleh anak. Kalau anak yang
memperoleh nilai dibawah
6 mencapai 50% dari
jumlah anak, hal ini sudah
merupakan kegagalan
guru dalam melaksanakan
evaluasi di akhir pelajaran.
Apa penyebab hal ini bisa
terjadi ?
1. Guru kurang menguasi
materi pelajaran.
Sehingga dalam
menyampaikan materi
pelajaran kepada anak
kalimatnya sering
terputus-putus ataupun
berbelit-belit yang
menyebabkan anak
menjadi bingung dan
sukar mencerna apa yang
disampaikan oleh guru
tersebut.
Tentu saja di akhir
pelajaran mareka
kewalahan menjawab
pertanyaan atau tidak
mampu mengerjakan
tugas yang diberikan. Dan
akhirnya nilai yang
diperoleh jauh dari apa
yang diharapkan.
2. Guru kurang menguasai
kelas,
Guru yang kurang mampu
menguasai kelas mendapat
hambatan dalam
menyampaikan materi
pelajaran, hal ini
dikarenakan suasana kelas
yang tidak menunjang
membuat anak yang betul-
betul ingin belajar menjadi
terganggu.
3. Guru enggan
mempergunakan alat
peraga dalam mengajar.
Kebiasaan guru yang tidak
mempergunakan alat
peraga memaksa anak
untuk berpikir verbal
sehingga membuat anak
sulit dalam memahami
pelajaran dan otomatis
dalam evaluasi di akhir
pelajaran nilai anak
menjadi jatuh.
4. Guru kurang mampu
memotivasi anak dalam
belajar sehingga dalam
menyampaikan materi
pelajaran, anak kurang
menaruh perhatian
terhadap materi yang
disampaikan oleh guru,
sehingga ilmu yang
terkandung di dalam
materi yang disampaikan
itu berlalu begitu saja
tanpa ada perhatian
khusus dari anak didik.
5. Guru menyamaratkan
kemampuan anak di dalam
menyerap pelajaran.
Setiap anak didik
mempunyai kemampuan
yang berbeda dalam
menyerap materi
pelajaran. Guru yang
kurang tangkap tidak
mengetahui bahwa ada
anak didinya yang daya
serapnya di bawah rata-
rata mengalami kesulitan
dalam belajar.
6. Guru kurang disiplin
dalam mengatur waktu.
Waktu yang tertulis dalam
jadwal pelajaran, tidak
sesuai dengan praktek
pelaksanaannya,. Waktu
untuk memulai pelajaran
selalu telat, tetapi waktu
istirahat dan jam pulang
selalu tepat atau tidak
pernah telat.
7. Guru enggan membuat
persiapan mengajar atau
setidaknya menyusun
langkah-langkah dalam
mengajar, yang disertai
dengan ketentuan-
ketentuan waktu untuk
mengawali pelajaran,
waktu untuk kegiatan
proses dan ketentuan
waktu untuk akhir
pelajaran.
8. Guru tidak mempunyai
kemajuan untuk
nemambah atau menimba
ilmu misalnya membaca
buku atau bertukar pikiran
dengan rekan guru yang
lebih senior dan
profesional guna
menambah wawasannya.
9. Dalam tes lisan di akhir
pelajaran, guru kurang
trampil mengajukan
pertanyaan kepada murid,
sehingga murid kurang
memahami tentang apa
yang dimaksud oleh guru.
10. Guru selalu
mengutamakan
pencapaian target
kurikulum.
Guru jarang
memperhatikan atau
menganalisa berapa
persen daya serap anak
terhadap materi pelajaran
tersebut
DAFTAR PUSTAKA
Uzer Usman, Mohd. Menjadi
Guru Profesional
Mengukur Hasil Belajar,
bahan ajar yang disusun
oleh Drs. Azhari Zakri
Dosen FKIP UNRI
Nasution, Noehi. Materi
Pokok Psikologi Pendidikan
Guru dan Proses Belajar
Mengajar. Bahan ajar yang
disusun oleh Drs. Azhari
Zakri dosen FKIP UNRI
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar