Kamis, 11 November 2010

KHASIAT SHOLAT

GERAKAN SHALAT
BERMANFAAT UNTUK
KESEHATAN TUBUH
Filed under: Tahajjud
Shalat ternyata tidak hanya
menjadi amalan utama di akhirat
nanti, tetapi gerakan-gerakan
shalat paling proporsional bagi
anatomi tubuh manusia. Bahkan
dari sudut medis, shalat adalah
gudang obat dari berbagai jenis
pnyakit.
Allah, Sang Maha Pencipta, tahu
persis apa yang sangat
dibutuhkan oleh ciptaanNya,
khususnya manusia. Semua
perintahNya tidak hanya bernilai
ketakwaan, tetapi juga
mempunyai manfaat besar bagi
tubuh manusia itu sendiri.
Misalnya, puasa, perintah Allah di
rukun Islam ketiga ini sangat
diakui manfaatnya oleh para
medis dan ilmuwan dunia barat.
Mereka pun serta merta ikut
berpuasa untuk kesehatan diri
dan pasien mereka.
Begitu pula dengan shalat.
Ibadah shalat merupakan ibadah
yang paling tepat untuk
metabolisme dan tekstur tubuh
manusia. Gerakan-gerakan di
dalam shalat pun mempunyai
manfaat masing-masing.
Misalnya:
Takbiratul Ihram
Berdiri tegak, mengangkat
kedua tangan sejajar tlinga, lalu
melipatnya di depan perut atau
dada bagian bawah. Gerakan ini
bermanfaat untuk melancarkan
aliran darah, getah bening
(limfe), dan kekuatan otot
lengan. Posisi jantung di bawah
otak memungkinkan darah
mengalir lancer ke seluruh
tubuh. Saat mengangkat kedua
tangan, otot bahu meregang
sehingga aliran darah kaya
oksigen menjadi lancer.
Kemudian kedua tangan
didekapkan di depan perut atau
dada bagian bawah. Sikap ini
menghindarkan dari berbagai
gangguan persendian,
khususnya pada tubuh bagian
atas.
Ruku’
Ruku’ yang sempurna ditandai
tulang belakang yang lurus
sehingga bila diletakkan segelas
air di atas punggung tersebut
tak akan tumpah. Posisi kepala
lurus dengan tulang belakang.
Gerakan ini bermanfaat untuk
menjaga kesempurnaan posisi
serta fungsi tulang belakang
(corpus vertebrae) sebagai
penyangga tubuh dan pusat
saraf. Posisi jantung sejajar
dengan otak, maka aliran darah
maksimal pada tubuh bagian
tengah. Tangan yang bertumpu
di lutut berfungsi untuk
merelaksasikan otot-otot bahu
hingga ke bawah. Selain itu,
rukuk adalah sarana latihan bagi
kemih sehingga gangguan
prostate dapat dicegah.
I’tidal
Bangun dari ruku’, tubuh
kembali tegak setelah
mengangkat kedua tangan
setinggi telinga. I ’tidal
merupakan variasi dari postur
setelah ruku ’ dan sebelum sujud.
Gerakan ini bermanfaat sebagai
latihan yang baik bagi organ-
organ pencernaan. Pada saat
I ’tidal dilakukan, organ-organ
pencernaan di dalam perut
mengalami pemijatan dan
pelonggaran secara bergantian.
Tentu memberi efek
melancarkan pencernaan.
Sujud
Menungging dengan meletakkan
kedua tangan, lutut, ujung kaki,
dan dahi pada lantai. Posisi sujud
berguna untuk memompa getah
bening ke bagian leher dan
ketiak. Posis jantung di atas otak
menyebabkan daerah kaya
oksigen bisa mengalir maksimal
ke otak. Aliran ini berpengaruh
pada daya pikir seseorang. Oleh
karena itu, sebaiknya lakukan
sujud dengan tuma ’ninah, tidak
tergesa-gesa agar darah
mencukupi kapasitasnya di otak.
Posisi seperti ini menghindarkan
seseorang dari gangguan wasir.
Khusus bagi wanita, baik ruku ’
maupun sujud memiliki manfaat
luar biasa bagi kesuburan dan
kesehatan organ kewanitaan.
Duduk di antara sujud
Duduk setelah sujud terdiri dari
dua macam yaitu iftirosy
(tahiyat awal) dan
tawarru ’ (tahiyat akhir).
Perbedaan terletak pada posisi
telapak kaki. pada saat iftirosy,
tubuh bertumpu pada pangkal
paha yang terhubung dengan
saraf nervus Ischiadius. Posisi ini
mampu menghindarkan nyeri
pada pangkal paha yang sering
menyebabkan penderitanya tak
mampu berjalan. Duduk tawarru’
sangat baik bagi pria sebab
tumit menekan aliran kandung
kemih (uretra), kelenjar kelamin
pria (prostate) dan saluran vas
deferens. Jika dilakukan dengan
benar, posisi seperti ini mampu
mencegah impotensi. Variasi
posisi telapak kaki pada iftirosy
dan tawarru ’ menyebabkan
seluruh otot tungkai turut
meregang dan kemudian relaks
kembali. Gerak dan tekanan
harmonis inilah yang menjaga
kelenturan dan kekuatan organ-
organ gerak kita.
Salam
Gerakan memutar kepala ke
kanan dank e kiri secara
maksimal. Salam bermanfaat
untuk bermanfaat untuk
merelaksasikan otot sekitar leher
dan kepala menyempurnakan
aliran darah di kepala sehingga
mencegah sakit kepala serta
menjaga kekencangan kulit
wajah.
Gerakan sujud tergolong unik.
Sujud memiliki falsafah
bahwa manusia
meneundukkan diri
serendah-rendahnya, bahkan
lebih rendah dari pantatnya
sendiri. Dari sudut pandang
ilmu psikoneuroimunologi
(ilmu mengenai kekebalan tubuh
dari sudut pandang psikologis)
yang di dalami Prof. Soleh,
gerakan ini mengantarkan
manusia pada derajat
setinggi-tingginya. Mengapa?
Dengan melakukan gerakan
sujud secara rutin, pembuluh
darah di otak terlatih untuk
menerima banyak pasokan
oksigen. Pada saat sujud, posisi
jantung berada di atas kepala
yang memungkinkan darah
mengalir maksimal ke otak.
Artinya, otak mendapatkan
pasokan darah kaya oksigen
yang memacu kerja sel-selnya.
Dengan kata lain, sujud yang
tuma’ninah dan kontinu
dapat memicu peningkatan
kecerdasan seseorang.
Setiap inci otak manusia
memerlukan darah yang cukup
untuk berfungsi secara normal.
Darah tidk akan memasuki urat
saraf di dalam otak melainkan
ketika seseorang sujud dalam
shalat. Urat saraf tersebut
memerlukan darah untuk
beberapa saat tertentu saja. Ini
berarti, darah akan memasuki
bagian urat tersebut mengikuti
waktu shalat, sebagaimana yang
telah diwajibkan dalam Islam.
Riset di atas telah mendapat
pengakuan dari Harvard
University, Amerika Serikat.
Bahkan seorang dokter
berkebangsaan Amerika yang
tak dikenalnya menyatakan diri
masuk Islam setelah diamdiam
melakukan riset pengembangan
khusus mengenai gerakan sujud.
Di samping itu, gerakan-gerakan
dalam shalat sekilas mirip
gerakan yoga ataupun
peregangan (stretching).
Intinya, berguna untuk
melenturkan tubuh dan
melancarkan peredaran darah.
Keunggulan shalat dibandingkan
gerakan lainnya adalah di dalam
shalat kita lebih banyak
menggerakkan anggota tubuh,
termasuk jari-jari kaki dan
tangan.
Sujud adalah latihan kekuatan
otot tertentu, termasuk otot
dada. Saat sujud, beban tubuh
bagian atas ditumpukan pada
lengan hingga telapak tangan.
Saat inilah kontraksi terjadi pada
otot dada, bagian tubuh yang
menjadi kebanggan wanita.
Payudara tak hanya menjadi
lebih indah bentuknya tetapi
juga memperbaiki fungsi
kelenjar air susu di dalamnya.
Masih dalam posisi sujud,
manfaat lain yang bisa dinikmati
kaum hawa adalah otot-otot
perut (rectus abdominis dan
obliqus abdominis externus)
berkontraksi penuh saat pinggul
serta pinggang terangkat
melampaui kepala dan dada.
Kondisi ini melatih organ di
sekitar perut untuk mengejan
lebih dalam dan lebih lama
yang membantu dalam
proses persalinan. Karena di
dalam persalinan dibutuhkan
pernapasan yang baik dan
kemampuan mengejan yang
mencukupi. Bila otot perut telah
berkembang menjadi lebih besar
dan kuat, maka secara alami,
otot ini justru menjadi elastis.
Kebiasaan sujud
menyebabkan tubuh dapat
mengembalikan dan
mempertahankan organ-
organ perut pada tempatnya
kembali (fiksasi) .
Setelah melakukan sujud, kita
melakukan gerakan duduk.
Dalam shalat terdapat dua jenis
duduk: iftirosy (tahiyat awal)
dan tawaru ’ (tahiyat akhir). Hal
terpenting adalah turut
berkontraksinya otot-otot
daerah perineum. Bagi wanita, di
daerah ini terdapat tiga liang
yaitu liang persenggamaan,
dubur untuk melepas kotoran,
dan saluran kemih. Saat
tawarru ’, tumit kaki kiri harus
menekan daerah perineum.
Punggung kaki harus diletakkan
di atas telapak kaki kiri dan
tumit kaki kanan harus menekan
pangkal paha kanan. Pada posisi
ini tumit kaki kiri akan memijit
dan menekan daerah perineum.
Tekanan lembut inilah yang
memperbaiki organ reproduksi
di daerah perineum.
Pada dasarnya, seluruh gerakan
shalat bertujuan meremajakan
tubuh. Jika tubuh lentur,
kerusakan sel dan kulit sedikit
terjadi. Apalagi jika dilakukan
secara rutin, maka sel-sel yang
rusak dapat segera tergantikan.
Regenerasi pun berlangsung
dengan lancar. Alhasil, tubuh
senantiasa bugar.
Menuru penelitian Prof. Dr.
Muhammad Soleh dalam
desertasinya yang berjudul
“ Pengaruh Shalat Tahajud
terhadap Peningkatan
Perubahan Respon Ketahanan
Tubuh Imonologik: Suatu
Pendekatan Neuroimunologi ”
dengan desertasi itu, Soleh
berhasil meraih gelar doctor
dalam bidang ilmu kedokteran
pada program pasca sarjana
Universitas Surabaya yang
dipertahankannya beberapa
waktu lalu.
Shalat tahajud ternyata bukan
hanya sekedar shalat tambahan
(sunah muakkad), tetapi jika
dilakukan secara rutin dan ikhlas
akan bisa mengatasi penyakit
kanker. Secara medis, shalat
tahajud mampu menumbuhkan
respons ketahanan tubuh
(imunologi) khususnya pada
imunoglobin M, G, A, dan
limfositnya yang berupa
persepsi serta motivasi positif.
Selain itu, juga dapat
mengefektifkan kemampuan
individu untuk menanggulangi
masalah yang dihadapi.
Selama ini, ulama melihat ikhlas
hanya sebagai persoalan mental
psikis. Namun, sebetulnya
permasalahan ini dapat
dibuktikan dengan teknologi
kedokteran. Ikhlas yang selama
ini dipandang sebagai misteri
dapat dibuktikan secara
kuantitatif melalui sekresi
hormon kortisol dengan
parameter kondisi tubuh. Pada
kondisi normal, jumlah kortisol
pada pagi hari normalnya antra
38-690 nmol/liter. Sedangkan
pada malam hari atau setelah
pukul 24.00, jumlah ini
meningkat menjadi 69-345
nmol/liter.
“Kalau jumlah hormone
kortisolnya normal, dapat
diindikasikan bahwa orang
tersebut tidak ikhlas karena
merasa tertekan. Demikian juga
sebaliknya, ” ujarnya seraya
menegaskan temuannya ini
membantah paradigma lama
yang menganggap ajaran agama
Islam semata-mata dogma atau
doktrin.
Menurut Dr. Soleh, orang stress
biasanya rentan sekali terhadap
penyakit kanker dan infeksi.
Dengan melakukan tahajud
secara rutin dan disertai
perasaan ihklas serta tidak
terpaksa, seseorang akan
memiliki respon imun yang baik
serta besar kemungkinan
terhindar dari penyakit infeksi
dan kanker. Berdasarkan
perhitungan medis, shalat
tahajud yang demikian
menyebabkan seseorang
memiliki ketahanan tubuh yang
baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamis, 11 November 2010

KHASIAT SHOLAT

GERAKAN SHALAT
BERMANFAAT UNTUK
KESEHATAN TUBUH
Filed under: Tahajjud
Shalat ternyata tidak hanya
menjadi amalan utama di akhirat
nanti, tetapi gerakan-gerakan
shalat paling proporsional bagi
anatomi tubuh manusia. Bahkan
dari sudut medis, shalat adalah
gudang obat dari berbagai jenis
pnyakit.
Allah, Sang Maha Pencipta, tahu
persis apa yang sangat
dibutuhkan oleh ciptaanNya,
khususnya manusia. Semua
perintahNya tidak hanya bernilai
ketakwaan, tetapi juga
mempunyai manfaat besar bagi
tubuh manusia itu sendiri.
Misalnya, puasa, perintah Allah di
rukun Islam ketiga ini sangat
diakui manfaatnya oleh para
medis dan ilmuwan dunia barat.
Mereka pun serta merta ikut
berpuasa untuk kesehatan diri
dan pasien mereka.
Begitu pula dengan shalat.
Ibadah shalat merupakan ibadah
yang paling tepat untuk
metabolisme dan tekstur tubuh
manusia. Gerakan-gerakan di
dalam shalat pun mempunyai
manfaat masing-masing.
Misalnya:
Takbiratul Ihram
Berdiri tegak, mengangkat
kedua tangan sejajar tlinga, lalu
melipatnya di depan perut atau
dada bagian bawah. Gerakan ini
bermanfaat untuk melancarkan
aliran darah, getah bening
(limfe), dan kekuatan otot
lengan. Posisi jantung di bawah
otak memungkinkan darah
mengalir lancer ke seluruh
tubuh. Saat mengangkat kedua
tangan, otot bahu meregang
sehingga aliran darah kaya
oksigen menjadi lancer.
Kemudian kedua tangan
didekapkan di depan perut atau
dada bagian bawah. Sikap ini
menghindarkan dari berbagai
gangguan persendian,
khususnya pada tubuh bagian
atas.
Ruku’
Ruku’ yang sempurna ditandai
tulang belakang yang lurus
sehingga bila diletakkan segelas
air di atas punggung tersebut
tak akan tumpah. Posisi kepala
lurus dengan tulang belakang.
Gerakan ini bermanfaat untuk
menjaga kesempurnaan posisi
serta fungsi tulang belakang
(corpus vertebrae) sebagai
penyangga tubuh dan pusat
saraf. Posisi jantung sejajar
dengan otak, maka aliran darah
maksimal pada tubuh bagian
tengah. Tangan yang bertumpu
di lutut berfungsi untuk
merelaksasikan otot-otot bahu
hingga ke bawah. Selain itu,
rukuk adalah sarana latihan bagi
kemih sehingga gangguan
prostate dapat dicegah.
I’tidal
Bangun dari ruku’, tubuh
kembali tegak setelah
mengangkat kedua tangan
setinggi telinga. I ’tidal
merupakan variasi dari postur
setelah ruku ’ dan sebelum sujud.
Gerakan ini bermanfaat sebagai
latihan yang baik bagi organ-
organ pencernaan. Pada saat
I ’tidal dilakukan, organ-organ
pencernaan di dalam perut
mengalami pemijatan dan
pelonggaran secara bergantian.
Tentu memberi efek
melancarkan pencernaan.
Sujud
Menungging dengan meletakkan
kedua tangan, lutut, ujung kaki,
dan dahi pada lantai. Posisi sujud
berguna untuk memompa getah
bening ke bagian leher dan
ketiak. Posis jantung di atas otak
menyebabkan daerah kaya
oksigen bisa mengalir maksimal
ke otak. Aliran ini berpengaruh
pada daya pikir seseorang. Oleh
karena itu, sebaiknya lakukan
sujud dengan tuma ’ninah, tidak
tergesa-gesa agar darah
mencukupi kapasitasnya di otak.
Posisi seperti ini menghindarkan
seseorang dari gangguan wasir.
Khusus bagi wanita, baik ruku ’
maupun sujud memiliki manfaat
luar biasa bagi kesuburan dan
kesehatan organ kewanitaan.
Duduk di antara sujud
Duduk setelah sujud terdiri dari
dua macam yaitu iftirosy
(tahiyat awal) dan
tawarru ’ (tahiyat akhir).
Perbedaan terletak pada posisi
telapak kaki. pada saat iftirosy,
tubuh bertumpu pada pangkal
paha yang terhubung dengan
saraf nervus Ischiadius. Posisi ini
mampu menghindarkan nyeri
pada pangkal paha yang sering
menyebabkan penderitanya tak
mampu berjalan. Duduk tawarru’
sangat baik bagi pria sebab
tumit menekan aliran kandung
kemih (uretra), kelenjar kelamin
pria (prostate) dan saluran vas
deferens. Jika dilakukan dengan
benar, posisi seperti ini mampu
mencegah impotensi. Variasi
posisi telapak kaki pada iftirosy
dan tawarru ’ menyebabkan
seluruh otot tungkai turut
meregang dan kemudian relaks
kembali. Gerak dan tekanan
harmonis inilah yang menjaga
kelenturan dan kekuatan organ-
organ gerak kita.
Salam
Gerakan memutar kepala ke
kanan dank e kiri secara
maksimal. Salam bermanfaat
untuk bermanfaat untuk
merelaksasikan otot sekitar leher
dan kepala menyempurnakan
aliran darah di kepala sehingga
mencegah sakit kepala serta
menjaga kekencangan kulit
wajah.
Gerakan sujud tergolong unik.
Sujud memiliki falsafah
bahwa manusia
meneundukkan diri
serendah-rendahnya, bahkan
lebih rendah dari pantatnya
sendiri. Dari sudut pandang
ilmu psikoneuroimunologi
(ilmu mengenai kekebalan tubuh
dari sudut pandang psikologis)
yang di dalami Prof. Soleh,
gerakan ini mengantarkan
manusia pada derajat
setinggi-tingginya. Mengapa?
Dengan melakukan gerakan
sujud secara rutin, pembuluh
darah di otak terlatih untuk
menerima banyak pasokan
oksigen. Pada saat sujud, posisi
jantung berada di atas kepala
yang memungkinkan darah
mengalir maksimal ke otak.
Artinya, otak mendapatkan
pasokan darah kaya oksigen
yang memacu kerja sel-selnya.
Dengan kata lain, sujud yang
tuma’ninah dan kontinu
dapat memicu peningkatan
kecerdasan seseorang.
Setiap inci otak manusia
memerlukan darah yang cukup
untuk berfungsi secara normal.
Darah tidk akan memasuki urat
saraf di dalam otak melainkan
ketika seseorang sujud dalam
shalat. Urat saraf tersebut
memerlukan darah untuk
beberapa saat tertentu saja. Ini
berarti, darah akan memasuki
bagian urat tersebut mengikuti
waktu shalat, sebagaimana yang
telah diwajibkan dalam Islam.
Riset di atas telah mendapat
pengakuan dari Harvard
University, Amerika Serikat.
Bahkan seorang dokter
berkebangsaan Amerika yang
tak dikenalnya menyatakan diri
masuk Islam setelah diamdiam
melakukan riset pengembangan
khusus mengenai gerakan sujud.
Di samping itu, gerakan-gerakan
dalam shalat sekilas mirip
gerakan yoga ataupun
peregangan (stretching).
Intinya, berguna untuk
melenturkan tubuh dan
melancarkan peredaran darah.
Keunggulan shalat dibandingkan
gerakan lainnya adalah di dalam
shalat kita lebih banyak
menggerakkan anggota tubuh,
termasuk jari-jari kaki dan
tangan.
Sujud adalah latihan kekuatan
otot tertentu, termasuk otot
dada. Saat sujud, beban tubuh
bagian atas ditumpukan pada
lengan hingga telapak tangan.
Saat inilah kontraksi terjadi pada
otot dada, bagian tubuh yang
menjadi kebanggan wanita.
Payudara tak hanya menjadi
lebih indah bentuknya tetapi
juga memperbaiki fungsi
kelenjar air susu di dalamnya.
Masih dalam posisi sujud,
manfaat lain yang bisa dinikmati
kaum hawa adalah otot-otot
perut (rectus abdominis dan
obliqus abdominis externus)
berkontraksi penuh saat pinggul
serta pinggang terangkat
melampaui kepala dan dada.
Kondisi ini melatih organ di
sekitar perut untuk mengejan
lebih dalam dan lebih lama
yang membantu dalam
proses persalinan. Karena di
dalam persalinan dibutuhkan
pernapasan yang baik dan
kemampuan mengejan yang
mencukupi. Bila otot perut telah
berkembang menjadi lebih besar
dan kuat, maka secara alami,
otot ini justru menjadi elastis.
Kebiasaan sujud
menyebabkan tubuh dapat
mengembalikan dan
mempertahankan organ-
organ perut pada tempatnya
kembali (fiksasi) .
Setelah melakukan sujud, kita
melakukan gerakan duduk.
Dalam shalat terdapat dua jenis
duduk: iftirosy (tahiyat awal)
dan tawaru ’ (tahiyat akhir). Hal
terpenting adalah turut
berkontraksinya otot-otot
daerah perineum. Bagi wanita, di
daerah ini terdapat tiga liang
yaitu liang persenggamaan,
dubur untuk melepas kotoran,
dan saluran kemih. Saat
tawarru ’, tumit kaki kiri harus
menekan daerah perineum.
Punggung kaki harus diletakkan
di atas telapak kaki kiri dan
tumit kaki kanan harus menekan
pangkal paha kanan. Pada posisi
ini tumit kaki kiri akan memijit
dan menekan daerah perineum.
Tekanan lembut inilah yang
memperbaiki organ reproduksi
di daerah perineum.
Pada dasarnya, seluruh gerakan
shalat bertujuan meremajakan
tubuh. Jika tubuh lentur,
kerusakan sel dan kulit sedikit
terjadi. Apalagi jika dilakukan
secara rutin, maka sel-sel yang
rusak dapat segera tergantikan.
Regenerasi pun berlangsung
dengan lancar. Alhasil, tubuh
senantiasa bugar.
Menuru penelitian Prof. Dr.
Muhammad Soleh dalam
desertasinya yang berjudul
“ Pengaruh Shalat Tahajud
terhadap Peningkatan
Perubahan Respon Ketahanan
Tubuh Imonologik: Suatu
Pendekatan Neuroimunologi ”
dengan desertasi itu, Soleh
berhasil meraih gelar doctor
dalam bidang ilmu kedokteran
pada program pasca sarjana
Universitas Surabaya yang
dipertahankannya beberapa
waktu lalu.
Shalat tahajud ternyata bukan
hanya sekedar shalat tambahan
(sunah muakkad), tetapi jika
dilakukan secara rutin dan ikhlas
akan bisa mengatasi penyakit
kanker. Secara medis, shalat
tahajud mampu menumbuhkan
respons ketahanan tubuh
(imunologi) khususnya pada
imunoglobin M, G, A, dan
limfositnya yang berupa
persepsi serta motivasi positif.
Selain itu, juga dapat
mengefektifkan kemampuan
individu untuk menanggulangi
masalah yang dihadapi.
Selama ini, ulama melihat ikhlas
hanya sebagai persoalan mental
psikis. Namun, sebetulnya
permasalahan ini dapat
dibuktikan dengan teknologi
kedokteran. Ikhlas yang selama
ini dipandang sebagai misteri
dapat dibuktikan secara
kuantitatif melalui sekresi
hormon kortisol dengan
parameter kondisi tubuh. Pada
kondisi normal, jumlah kortisol
pada pagi hari normalnya antra
38-690 nmol/liter. Sedangkan
pada malam hari atau setelah
pukul 24.00, jumlah ini
meningkat menjadi 69-345
nmol/liter.
“Kalau jumlah hormone
kortisolnya normal, dapat
diindikasikan bahwa orang
tersebut tidak ikhlas karena
merasa tertekan. Demikian juga
sebaliknya, ” ujarnya seraya
menegaskan temuannya ini
membantah paradigma lama
yang menganggap ajaran agama
Islam semata-mata dogma atau
doktrin.
Menurut Dr. Soleh, orang stress
biasanya rentan sekali terhadap
penyakit kanker dan infeksi.
Dengan melakukan tahajud
secara rutin dan disertai
perasaan ihklas serta tidak
terpaksa, seseorang akan
memiliki respon imun yang baik
serta besar kemungkinan
terhindar dari penyakit infeksi
dan kanker. Berdasarkan
perhitungan medis, shalat
tahajud yang demikian
menyebabkan seseorang
memiliki ketahanan tubuh yang
baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar