Perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi di
satu sisi telah membawa
dampak positif pada
perkembangan kehidupan
masyarakat. Namun, di sisi lain
juga membawa efek negatif
pada perkembangan anak,
terutama pornografi.
Banyak orang yang belum
menyadari bahwa anak dan
remaja di Indonesia telah
terpapar pornografi dalam
jumlah yang tidak bisa
dibayangkan dan berpotensi
menimbulkan kerusakan otak
yang melebihi efek narkoba.
Mengapa pornografi sangat
rentan bagi anak dan
remaja?
"Pornografi dapat memberi
dampak langsung pada
perkembangan otak anak dan
remaja, yang bisa menyebabkan
kerusakan otak permanen bila
tidak segera diatasi," ujar Dr
Mark B. Kastlemaan, pakar adiksi
pornografi dari USA, dalam
acara 'Seminar Eksekutif
Penanggulangan Adiksi
Pornografi' di Hotel Grand
Kemang, Jakarta, Senin
(27/9/2010).
Menurut Dr Mark, ada dua
bagian otak yang masing-
masing berfungsi untuk berpikir
logika (Pre Frontal Corteks atau
bagian otak depan) dan emosi
reaktif (sistem limbik atau
bagian tengah otak).
Pada bagian Pre Frontal Corteks
(PFC), otak bertanggung jawab
untuk mengontrol konsekuensi,
tujuan masa depan, kecerdasan
dan rasa peduli dengan orang
lain.
Sedangkan pada bagian limbik,
otak bertanggung jawab untuk
melindungi dari bahaya,
keinginan untuk bersenang-
senang, tidak peduli dengan
konsekuensi dan hanya peduli
pada diri sendiri (ego).
"Pornografi sangat rentan pada
anak dan remaja karena bagian
logika otak belum berkembang
dengan baik," jelas Dr Mark lebih
lanjut.
Dr Mark menjelaskan, ada 3
tahapan perkembangan otak,
yaitu koneksi, pemangkasan dan
myelinasi.
1. Koneksi
Tahapan ini adalah ketika anak-
anak membawa informasi dari
lingkungan sekitar dan
menyimpannya di neuron (sel-
sel otak). Terdapat triliunan sel-
sel otak yang saling terkait. Pada
tahapan ini bagian limbik otak
berkembang sangat awal dan
mencapai puncak pada usia 3
bulan, sedangkan bagian logika
(PFC) baru mencapai puncak
pada usia 3 tahun.
2. Pemangkasan
Pada tahapan ini, otak
melakukan pemilihan informasi
mana yang bisa digunakan dan
mana yang dibuang.
Sambungan-sambungan saraf
yang digunakan akan tetap dan
menjadi kuat, sedangkan yang
tidak digunakan akan 'hilang'.
Pada tahapan ini, limbik akan
hilang atau terpangkas di usia 5
tahun, sedangkan PFC belum
lengkap sampai usia 16 tahun.
3. Myelinasi
Pada tahapan ini, neuron dilapisi
oleh zat yang berlemak, licin
seperti lilin yang disebut myelin.
Bagian limbik akan mengalami
proses myelinasi pada usia 7-8
tahun (otak kelihatan seperti
'orang dewasa'), sedangkan PFC
belum lengkap sampai usia 25
tahun.
Dari 3 tahapan otak tersebut
sangat jelas bahwa bagian otak
limbik yang tidak peduli dengan
konsekuensi berkembang lebih
dulu. Nah, pada anak dan remaja
yang bagian otak logikanya
belum berkembang, pornografi
akan sangat berpengaruh dan
rentan menyebabkan adiksi
(kecanduan) serta bisa merusak
tumbuh kembang otak anak.
Pada pecandu pornografi, Dr
Mark menjelaskan, otak akan
merangsang produksi dopamin
dan endorfin, yaitu suatu bahan
kimia otak yang membuat rasa
senang dan merasa lebih baik.
Dalam kondisi normal, zat-zat ini
akan sangat bermanfaat untuk
membuat orang sehat dan
menjalankan hidup dengan lebih
baik. Tapi dengan pornografi,
otak akan mengalami hyper
stimulating (rangsangan yang
berlebihan), sehingga otak tidak
bekerja dengan normal bahkan
sangat ekstrem, yang kemudian
bisa membuatnya mengecil dan
rusak.
"Bila bagian otak limbik selalu
digunakan untuk pornografi
pada anak dan remaja, maka
bagian otak yang bertanggung
jawab untuk logika akan
mengalami cacat, karena otak
hanya mencari kesenangan
tanpa adanya konsekuensi,"
tutur Dr Mark.
Dengan rusaknya otak, maka
anak dan remaja akan mudah
mengalami bosan, merasa
sendiri, marah, tertekan dan
lelah. Selain itu, dampak yang
paling mengkhawatirkan adalah
penurunan prestasi akademik
dan kemampuan belajar, serta
berkurangnya kemampuan
pengambilan keputusan.
"Tapi sebenarnya pornografi
pada anak lebih mudah diatasi
ketimbang pada orang dewasa,"
tegas Dr Mark.
Menurut Dr Mark, otak anak
yang belum berkembang
dengan sempurna sebenarnya
bersifat neuro plastic (mudah
dibentuk).
Di satu sisi akan berdampak
buruk karena pengaruh media
dan pornografi akan lebih
mudah masuk. Tapi di sisi lain
pengaruh tersebut bisa lebih
mudah dihilangkan bila ada
usaha yang dilakukan perlahan
untuk memulihkannya, terutama
usaha yang dilakukan oleh
orangtua.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Minggu, 31 Oktober 2010
WHy!? Pornografi Merusak anak dan remaja
Perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi di
satu sisi telah membawa
dampak positif pada
perkembangan kehidupan
masyarakat. Namun, di sisi lain
juga membawa efek negatif
pada perkembangan anak,
terutama pornografi.
Banyak orang yang belum
menyadari bahwa anak dan
remaja di Indonesia telah
terpapar pornografi dalam
jumlah yang tidak bisa
dibayangkan dan berpotensi
menimbulkan kerusakan otak
yang melebihi efek narkoba.
Mengapa pornografi sangat
rentan bagi anak dan
remaja?
"Pornografi dapat memberi
dampak langsung pada
perkembangan otak anak dan
remaja, yang bisa menyebabkan
kerusakan otak permanen bila
tidak segera diatasi," ujar Dr
Mark B. Kastlemaan, pakar adiksi
pornografi dari USA, dalam
acara 'Seminar Eksekutif
Penanggulangan Adiksi
Pornografi' di Hotel Grand
Kemang, Jakarta, Senin
(27/9/2010).
Menurut Dr Mark, ada dua
bagian otak yang masing-
masing berfungsi untuk berpikir
logika (Pre Frontal Corteks atau
bagian otak depan) dan emosi
reaktif (sistem limbik atau
bagian tengah otak).
Pada bagian Pre Frontal Corteks
(PFC), otak bertanggung jawab
untuk mengontrol konsekuensi,
tujuan masa depan, kecerdasan
dan rasa peduli dengan orang
lain.
Sedangkan pada bagian limbik,
otak bertanggung jawab untuk
melindungi dari bahaya,
keinginan untuk bersenang-
senang, tidak peduli dengan
konsekuensi dan hanya peduli
pada diri sendiri (ego).
"Pornografi sangat rentan pada
anak dan remaja karena bagian
logika otak belum berkembang
dengan baik," jelas Dr Mark lebih
lanjut.
Dr Mark menjelaskan, ada 3
tahapan perkembangan otak,
yaitu koneksi, pemangkasan dan
myelinasi.
1. Koneksi
Tahapan ini adalah ketika anak-
anak membawa informasi dari
lingkungan sekitar dan
menyimpannya di neuron (sel-
sel otak). Terdapat triliunan sel-
sel otak yang saling terkait. Pada
tahapan ini bagian limbik otak
berkembang sangat awal dan
mencapai puncak pada usia 3
bulan, sedangkan bagian logika
(PFC) baru mencapai puncak
pada usia 3 tahun.
2. Pemangkasan
Pada tahapan ini, otak
melakukan pemilihan informasi
mana yang bisa digunakan dan
mana yang dibuang.
Sambungan-sambungan saraf
yang digunakan akan tetap dan
menjadi kuat, sedangkan yang
tidak digunakan akan 'hilang'.
Pada tahapan ini, limbik akan
hilang atau terpangkas di usia 5
tahun, sedangkan PFC belum
lengkap sampai usia 16 tahun.
3. Myelinasi
Pada tahapan ini, neuron dilapisi
oleh zat yang berlemak, licin
seperti lilin yang disebut myelin.
Bagian limbik akan mengalami
proses myelinasi pada usia 7-8
tahun (otak kelihatan seperti
'orang dewasa'), sedangkan PFC
belum lengkap sampai usia 25
tahun.
Dari 3 tahapan otak tersebut
sangat jelas bahwa bagian otak
limbik yang tidak peduli dengan
konsekuensi berkembang lebih
dulu. Nah, pada anak dan remaja
yang bagian otak logikanya
belum berkembang, pornografi
akan sangat berpengaruh dan
rentan menyebabkan adiksi
(kecanduan) serta bisa merusak
tumbuh kembang otak anak.
Pada pecandu pornografi, Dr
Mark menjelaskan, otak akan
merangsang produksi dopamin
dan endorfin, yaitu suatu bahan
kimia otak yang membuat rasa
senang dan merasa lebih baik.
Dalam kondisi normal, zat-zat ini
akan sangat bermanfaat untuk
membuat orang sehat dan
menjalankan hidup dengan lebih
baik. Tapi dengan pornografi,
otak akan mengalami hyper
stimulating (rangsangan yang
berlebihan), sehingga otak tidak
bekerja dengan normal bahkan
sangat ekstrem, yang kemudian
bisa membuatnya mengecil dan
rusak.
"Bila bagian otak limbik selalu
digunakan untuk pornografi
pada anak dan remaja, maka
bagian otak yang bertanggung
jawab untuk logika akan
mengalami cacat, karena otak
hanya mencari kesenangan
tanpa adanya konsekuensi,"
tutur Dr Mark.
Dengan rusaknya otak, maka
anak dan remaja akan mudah
mengalami bosan, merasa
sendiri, marah, tertekan dan
lelah. Selain itu, dampak yang
paling mengkhawatirkan adalah
penurunan prestasi akademik
dan kemampuan belajar, serta
berkurangnya kemampuan
pengambilan keputusan.
"Tapi sebenarnya pornografi
pada anak lebih mudah diatasi
ketimbang pada orang dewasa,"
tegas Dr Mark.
Menurut Dr Mark, otak anak
yang belum berkembang
dengan sempurna sebenarnya
bersifat neuro plastic (mudah
dibentuk).
Di satu sisi akan berdampak
buruk karena pengaruh media
dan pornografi akan lebih
mudah masuk. Tapi di sisi lain
pengaruh tersebut bisa lebih
mudah dihilangkan bila ada
usaha yang dilakukan perlahan
untuk memulihkannya, terutama
usaha yang dilakukan oleh
orangtua.
informasi dan komunikasi di
satu sisi telah membawa
dampak positif pada
perkembangan kehidupan
masyarakat. Namun, di sisi lain
juga membawa efek negatif
pada perkembangan anak,
terutama pornografi.
Banyak orang yang belum
menyadari bahwa anak dan
remaja di Indonesia telah
terpapar pornografi dalam
jumlah yang tidak bisa
dibayangkan dan berpotensi
menimbulkan kerusakan otak
yang melebihi efek narkoba.
Mengapa pornografi sangat
rentan bagi anak dan
remaja?
"Pornografi dapat memberi
dampak langsung pada
perkembangan otak anak dan
remaja, yang bisa menyebabkan
kerusakan otak permanen bila
tidak segera diatasi," ujar Dr
Mark B. Kastlemaan, pakar adiksi
pornografi dari USA, dalam
acara 'Seminar Eksekutif
Penanggulangan Adiksi
Pornografi' di Hotel Grand
Kemang, Jakarta, Senin
(27/9/2010).
Menurut Dr Mark, ada dua
bagian otak yang masing-
masing berfungsi untuk berpikir
logika (Pre Frontal Corteks atau
bagian otak depan) dan emosi
reaktif (sistem limbik atau
bagian tengah otak).
Pada bagian Pre Frontal Corteks
(PFC), otak bertanggung jawab
untuk mengontrol konsekuensi,
tujuan masa depan, kecerdasan
dan rasa peduli dengan orang
lain.
Sedangkan pada bagian limbik,
otak bertanggung jawab untuk
melindungi dari bahaya,
keinginan untuk bersenang-
senang, tidak peduli dengan
konsekuensi dan hanya peduli
pada diri sendiri (ego).
"Pornografi sangat rentan pada
anak dan remaja karena bagian
logika otak belum berkembang
dengan baik," jelas Dr Mark lebih
lanjut.
Dr Mark menjelaskan, ada 3
tahapan perkembangan otak,
yaitu koneksi, pemangkasan dan
myelinasi.
1. Koneksi
Tahapan ini adalah ketika anak-
anak membawa informasi dari
lingkungan sekitar dan
menyimpannya di neuron (sel-
sel otak). Terdapat triliunan sel-
sel otak yang saling terkait. Pada
tahapan ini bagian limbik otak
berkembang sangat awal dan
mencapai puncak pada usia 3
bulan, sedangkan bagian logika
(PFC) baru mencapai puncak
pada usia 3 tahun.
2. Pemangkasan
Pada tahapan ini, otak
melakukan pemilihan informasi
mana yang bisa digunakan dan
mana yang dibuang.
Sambungan-sambungan saraf
yang digunakan akan tetap dan
menjadi kuat, sedangkan yang
tidak digunakan akan 'hilang'.
Pada tahapan ini, limbik akan
hilang atau terpangkas di usia 5
tahun, sedangkan PFC belum
lengkap sampai usia 16 tahun.
3. Myelinasi
Pada tahapan ini, neuron dilapisi
oleh zat yang berlemak, licin
seperti lilin yang disebut myelin.
Bagian limbik akan mengalami
proses myelinasi pada usia 7-8
tahun (otak kelihatan seperti
'orang dewasa'), sedangkan PFC
belum lengkap sampai usia 25
tahun.
Dari 3 tahapan otak tersebut
sangat jelas bahwa bagian otak
limbik yang tidak peduli dengan
konsekuensi berkembang lebih
dulu. Nah, pada anak dan remaja
yang bagian otak logikanya
belum berkembang, pornografi
akan sangat berpengaruh dan
rentan menyebabkan adiksi
(kecanduan) serta bisa merusak
tumbuh kembang otak anak.
Pada pecandu pornografi, Dr
Mark menjelaskan, otak akan
merangsang produksi dopamin
dan endorfin, yaitu suatu bahan
kimia otak yang membuat rasa
senang dan merasa lebih baik.
Dalam kondisi normal, zat-zat ini
akan sangat bermanfaat untuk
membuat orang sehat dan
menjalankan hidup dengan lebih
baik. Tapi dengan pornografi,
otak akan mengalami hyper
stimulating (rangsangan yang
berlebihan), sehingga otak tidak
bekerja dengan normal bahkan
sangat ekstrem, yang kemudian
bisa membuatnya mengecil dan
rusak.
"Bila bagian otak limbik selalu
digunakan untuk pornografi
pada anak dan remaja, maka
bagian otak yang bertanggung
jawab untuk logika akan
mengalami cacat, karena otak
hanya mencari kesenangan
tanpa adanya konsekuensi,"
tutur Dr Mark.
Dengan rusaknya otak, maka
anak dan remaja akan mudah
mengalami bosan, merasa
sendiri, marah, tertekan dan
lelah. Selain itu, dampak yang
paling mengkhawatirkan adalah
penurunan prestasi akademik
dan kemampuan belajar, serta
berkurangnya kemampuan
pengambilan keputusan.
"Tapi sebenarnya pornografi
pada anak lebih mudah diatasi
ketimbang pada orang dewasa,"
tegas Dr Mark.
Menurut Dr Mark, otak anak
yang belum berkembang
dengan sempurna sebenarnya
bersifat neuro plastic (mudah
dibentuk).
Di satu sisi akan berdampak
buruk karena pengaruh media
dan pornografi akan lebih
mudah masuk. Tapi di sisi lain
pengaruh tersebut bisa lebih
mudah dihilangkan bila ada
usaha yang dilakukan perlahan
untuk memulihkannya, terutama
usaha yang dilakukan oleh
orangtua.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar