A. LATAR BELAKANG.
Jagad Indonesia ini
memungkinkan
dikembangkan
tanaman sayur-
sayuran yang banyak
bermanfaat bagi
pertumbuhan dan
perkembangan bagi
manusia. Sehingga
ditinjau dari aspek
klimatologis Indonesia
sangat tepat untuk
dikembangkan untuk
bisnis sayuran.
Di antara tanaman
sayur-sayuran yang
mudah dibudidayakan
adalah caisim. Karena
caisim ini sangat
mudah dikembangkan
dan banyak kalangan
yang menyukai dan
memanfaatkannya.
Selain itu juga sangat
potensial untuk
komersial dan prospek
sangat baik..
Ditinjau dari aspek
klimatologis, aspek
teknis, aspek ekonomis
dan aspek sosialnya
sangat mendukung,
sehingga memiliki
kelayakan untuk
diusahakan di
Indonesia.
Sebutan sawi orang
asing adalah mustard.
Perdagangan
internasional dengan
sebutan green
mustard, chinese
mustard, indian
mustard ataupun
sarepta mustard.
Orang Jawa, Madura
menyebutnya dengan
sawi, sedang orang
Sunda menyebut
sasawi.
B. MANFAAT.
Manfaat sawi sangat
baik untuk
menghilangkan rasa
gatal di tenggorokan
pada penderita batuk.
Penyembuh penyakit
kepala, bahan
pembersih darah,
memperbaiki fungsi
ginjal, serta
memperbaiki dan
memperlancar
pencernaan.
Sedangkan kandungan
yang terdapat pada
sawi adalah protein,
lemak, karbohidrat, Ca,
P, Fe, Vitamin A,
Vitamin B, dan Vitamin
C.
JENIS SAWI
A. KLASIFIKASI BOTANI.
Divisi : Spermatophyta.
Subdivisi :
Angiospermae.
Kelas : Dicotyledonae.
Ordo : Rhoeadales
(Brassicales).
Famili : Cruciferae
(Brassicaceae).
Genus : Brassica.
Spesies : Brassica
Juncea.
B. JENIS-JENIS SAWI.
Secara umum tanaman
sawi biasanya
mempunyai daun
panjang, halus, tidak
berbulu, dan tidak
berkrop. Petani kita
hanya mengenal 3
macam sawi yang
biasa dibudidayakan
yaitu : sawi putih
(sawi jabung), sawi
hijau, dan sawi huma.
Sekarang ini
masyarakat lebih
mengenal caisim alias
sawi bakso. Selain itu
juga ada pula jenis
sawi keriting dan sawi
sawi monumen.
Caisim alias sawi bakso
ada juga yang
menyebutnya sawi
cina., merupakan jenis
sawi yang paling
banyak dijajakan di
pasar-pasae dewasa
ini. Tangkai daunnya
panjang, langsing,
berwarna putih
kehijauan. Daunnya
lebar memanjang, tipis
dan berwarna hijau.
Rasanya yang renyah,
segar, dengan sedikit
sekali rasa pahit. Selain
enak ditumis atau
dioseng, juga untuk
pedangan mie bakso,
mie ayam, atau
restoran cina.
SYARAT TUMBUH
Sawi bukan tanaman
asli Indonesia,
menurut asalnya di
Asia. Karena Indonesia
mempunyai kecocokan
terhadap iklim, cuaca
dan tanahnya
sehingga
dikembangkan di
Indonesia ini.
Tanaman sawi dapat
tumbuh baik di tempat
yang berhawa panas
maupun berhawa
dingin, sehingga dapat
diusahakan dari
dataran rendah
maupun dataran
tinggi. Meskipun
demikian pada
kenyataannya hasil
yang diperoleh lebih
baik di dataran tinggi.
Daerah penanaman
yang cocok adalah
mulai dari ketinggian 5
meter sampai dengan
1.200 meter di atas
permukaan laut.
Namun biasanya
dibudidayakan pada
daerah yang
mempunyai ketinggian
100 meter sampai 500
meter dpl.
Tanaman sawi tahan
terhadap air hujan,
sehingga dapat di
tanam sepanjang
tahun. Pada musim
kemarau yang perlu
diperhatikan adalah
penyiraman secara
teratur. Berhubung
dalam
pertumbuhannya
tanaman ini
membutuhkan hawa
yang sejuk. lebih cepat
tumbuh apabila
ditanam dalam
suasana lembab. Akan
tetapi tanaman ini
juga tidak senang
pada air yang
menggenang. Dengan
demikian, tanaman ini
cocok bils di tanam
pada akhir musim
penghujan.
Tanah yang cocok
untuk ditanami sawi
adalah tanah gembur,
banyak mengandung
humus, subur, serta
pembuangan airnya
baik. Derajat
kemasaman (pH) tanah
yang optimum untuk
pertumbuhannya
adalah antara pH 6
sampai pH 7.
BUDIDAYA TANAMAN
SAWI
Cara bertanam sawi
sesungguhnya tak
berbeda jauh dengan
budidaya sayuran
pada umumnya.
Budidaya
konvensional di lahan
meliputi proses
pengolahan lahan,
penyiapan benih,
teknik penanaman,
penyediaan pupuk dan
pestisida, serta
pemeliharaan
tanaman.
Sawi dapat ditanam
secara monokultur
maupun tunmpang
sari. Tanaman yang
dapat
ditumpangsarikan
antara lain : bawang
dau, wortel, bayam,
kangkung darat.
Sedangkan menanam
benih sawi ada yang
secara langsung tetapi
ada juga melalui
pembibitan terlebih
dahulu.
Berikut ini akan
dibahas mengenai
teknik budidaya sawi
secara konvensional di
lahan.
A. BENIH.
Benih merupakan salah
satu faktor penentu
keberhasilan usaha
tani. Benih yang baik
akan menghasilkan
tanaman yang tumbuh
dengan bagus.
Kebutuhan benih sawi
untuk setiap hektar
lahan tanam sebesar
750 gram.
Benih sawi berbentuk
bulat, kecil-kecil.
Permukaannya licin
mengkilap dan agak
keras. Warna kulit
benih coklat
kehitaman. Benih yang
akan kita gunakan
harus mempunyai
kualitas yang baik,
seandainya beli harus
kita perhatikan lama
penyimpanan,
varietas, kadar air,
suhu dan tempat
menyimpannya. Selain
itu juga harus
memperhatikan
kemasan benih harus
utuh. kemasan yang
baik adalah dengan
alumunium foil.
Apabila benih yang
kita gunakan dari hasil
pananaman kita harus
memperhatikan
kualitas benih itu,
misalnya tanaman
yang akan diambil
sebagai benih harus
berumur lebih dari 70
hari. Dan penanaman
sawi yang akan
dijadikan benih
terpisah dari tanaman
sawi yang lain. Juga
memperhatikan proses
yang akan dilakukan
mesilnya dengan
dianginkan, tempat
penyimpanan dan
diharapkan lama
penggunaan benih
tidak lebih dari 3
tahun.
B. PENGOLAHAN TANAH.
Pengolahan tanah
secara umum
melakukan
penggemburan dan
pembuatan bedengan.
Tahap-tahap
pengemburan yaitu
pencangkulan untuk
memperbaiki struktur
tanah dan sirkulasi
udara dan pemberian
pupuk dasar untuk
memperbaiki fisik
serta kimia tanah yang
akan menambah
kesuburan lahan yang
akan kita gunakan.
Tanah yang hendak
digemburkan harus
dibersihkan dari
bebatuan, rerumputan,
semak atau
pepohonan yang
tumbuh. Dan bebas
dari daerah ternaungi,
karena tanaman sawi
suka pada cahaya
matahari secara
langsung.
Sedangkan kedalaman
tanah yang dicangkul
sedalam 20 sampai 40
cm. Pemberian pupuk
organik sangat baik
untuk penyiapan
tanah. Sebagai contoh
pemberian pupuk
kandang yang baik
yaitu 10 ton/ha. Pupuk
kandang diberikan
saat penggemburan
agar cepat merata dan
bercampur dengan
tanah yang akan kita
gunakan.
Bila daerah yang
mempunyai pH terlalu
rendah (asam)
sebaiknya dilakukan
pengapuran.
Pengapuran ini
bertujuan untuk
menaikkan derajad
keasam tanah,
pengapuran ini
dilakukan jauh-jauh
sebelum penanaman
benih, yaitu kira-kira 2
sampai 4 minggu
sebelumnya. Sehingga
waktu yang baik
dalam melakukan
penggemburan tanah
yaitu 2 – 4 minggu
sebelum lahan hendak
ditanam. Jenis kapur
yang digunakan
adalah kapur kalsit
(CaCO3) atau dolomit
(CaMg(CO3)2).
C. PEMBIBITAN.
Pembibitan dapat
dilakukan bersamaan
dengan pengolahan
tanah untuk
penanaman. Karena
lebih efisien dan benih
akan lebih cepat
beradaptasi terhadap
lingkungannya. Sedang
ukuran bedengan
pembibitan yaitu lebar
80 – 120 cm dan
panjangnya 1 – 3
meter. Curah hujan
lebih dari 200 mm/
bulan, tinggi bedengan
20 – 30 cm.
Dua minggu sebelum
di tabur benih,
bedengan pembibitan
ditaburi dengan pupuk
kandang lalu di
tambah 20 gram urea,
10 gram TSP, dan 7,5
gram Kcl.
Cara melakukan
pembibitan ialah
sebagai berikut : benih
ditabur, lalu ditutupi
tanah setebal 1 – 2 cm,
lalu disiram dengan
sprayer, kemudian
diamati 3 – 5 hari
benih akan tumbuh
setelah berumur 3 – 4
minggu sejak
disemaikan tanaman
dipindahkan ke
bedengan.
D. PENANAMAN.
Bedengan dengan
ukuran lebar 120 cm
dan panjang sesuai
dengan ukuran petak
tanah. Tinggi bedeng
20 – 30 cm dengan
jarak antar bedeng 30
cm, seminggu sebelum
penanaman dilakukan
pemupukan terlebih
dahulu yaitu pupuk
kandang 10 ton/ha,
TSP 100 kg/ha, Kcl 75
kg/ha. Sedang jarak
tanam dalam
bedengan 40 x 40 cm ,
30 x 30 dan 20 x 20
cm.
Pilihlah bibit yang baik,
pindahkan bibit
dengan hati-hati, lalu
membuat lubang
dengan ukuran 4 – 8 x
6 – 10 cm.
E. PEMELIHARAAN.
Pemeliharaan adalah
hal yang penting.
Sehingga akan sangat
berpengaruh terhadap
hasil yang akan
didapat. Pertama-tama
yang perlu
diperhatikan adalah
penyiraman,
penyiraman ini
tergantung pada
musim, bila musim
penghujan dirasa
berlebih maka kita
perlu melakukan
pengurangan air yang
ada, tetapi sebaliknya
bila musim kemarau
tiba kita harus
menambah air demi
kecukupan tanaman
sawi yang kita tanam.
Bila tidak terlalu
panaspenyiraman
dilakukan sehari cukup
sekali sore atau pagi
hari.
Tahap selanjutnya
yaitu penjarangan,
penjarangan dilakukan
2 minggu setelah
penanaman. Caranya
dengan mencabut
tanaman yang tumbuh
terlalu rapat.
Selanjutnya tahap
yang dilakukan adalah
penyulaman,
penyulaman ialah
tindakan penggantian
tanaman ini dengan
tanaman baru. Caranya
sangat mudah yaitu
tanaman yang mati
atau terserang hama
dan penyakit diganti
dengan tanaman yang
baru.
Penyiangan biasanya
dilakukan 2 – 4 kali
selama masa
pertanaman sawi,
disesuaikan dengan
kondisi keberadaan
gulma pada bedeng
penanaman. Biasanya
penyiangan dilakukan
1 atau 2 minggu
setelah penanaman.
Apabila perlu dilakukan
penggemburan dan
pengguludan
bersamaan dengan
penyiangan.
Pemupukan tambahan
diberikan setelah 3
minggu tanam, yaitu
dengan urea 50 kg/ha.
Dapat juga dengan
satu sendok the
sekitar 25 gram
dilarutkan dalam 25
liter air dapat
disiramkan untuk 5 m
bedengan.
PENANAMAN
VERTIKULTUR
Langkah – angkah
penanaman secara
vertikultur adalah
sebagai berikut :
1. Benih disemaikan
pada kotak
persemaian denagn
media pasir. Bibit
dirawat hingga siap
ditanaman pada umur
14 hari sejak benih
disemaikan.
2. Sediakan media
tanam berupa tanah
top soil, pupuk
kandang, pasir dan
kompos dengan
perbandingan 2:1:1:1
yang dicampur secara
merata.
3. Masukkan campuran
media tanam tersebut
ke dalam polibag yang
berukuran 20 x 30 cm.
4. Pindahkan bibit
tanaman yang sudah
siap tanam ke dalam
polibag yang tersedia.
Tanaman yang
dipindahkan biasanya
telah berdaun 3 – 5
helai.
5. Polibag yang sudah
ditanami disusun pada
rak-rak yang tersedia
pada Lath House.
PENANAMAN
HIDROPONIK.
Langkah-langkah
penanaman secara
hidroponik adalah
sebagai berikut :
1. Siapkan wadah
persemaian . Masukkan
media berupa pasir
halus yang disterilkan
setebal 3 – 4 cm.
Taburkan benih sawi
di atasnya selanjutnya
tutupi kembali dengan
lapisan pasir setebal
0,5 cm.
2. Setelah bibit tumbuh
dan berdaun 3 – 5
helai (umur 3 – 4
minggu0, bibit dicabut
dengan hati-hati,
selanjutnya bagian
akarnya dicuci dengan
air hingga bersih, akar
yang terlalu panjang
dapat digunting.
3. Bak penanaman diisi
bagian bawahnya
dengan kerikil steril
setebal 7 – 10 cm,
selanjutnya di sebelah
atas ditambahkan
lapisan pasir kasar
yang juga sudah steril
setebal 20 cm.
4. Buat lubang
penanaman dengan
jarak sekitar 25 x 25
cm, masukkan bibit ke
lubang tersebut, tutupi
bagian akar bibit
dengan media hingga
melewati leher akar,
usahakan posisi bibit
tegak lurus dengan
media.
5. Berikan larutan
hidroponik lewat
penyiraman, dapat
pula pemberian
dilakukan dengan
sistem drip irigation
atau sistem lainnya,
tanaman baru
selanjutnya dipelihara
hingga tumbuh besar.
HAMA DAN PENYAKIT
A. HAMA.
1. Ulat titik tumbuh
(Crocidolomia binotalis
Zell.).
2. Ulat tritip (Plutella
maculipennis).
3. Siput (Agriolimas
sp.).
4. Ulat Thepa javanica.
5. Cacing bulu (cut
worm).
B. PENYAKIT.
1. Penyakit akar pekuk.
2. Bercak daun
alternaria.
3. Busuk basah (soft
root).
4. Penyakit embun
tepung (downy
mildew).
5. Penyakit rebah
semai (dumping off).
6. Busuk daun.
7. busuk Rhizoctonia
(bottom root).
8. Bercak daun.
9. Virus mosaik.
PANEN DAN
PENANGANAN PASCA
PANEN.
Dalam hal pemanenan
penting sekali
diperhatikan umur
panen dan cara
panennya. Umur
panen sawi paling
lama 70 hari. Paling
pendek umur 40 hari.
Terlebih dahulu
melihat fisik tanaman
seperti warna, bentuk
dan ukuran daun. Cara
panen ada 2 macam
yaitu mencabut
seluruh tanaman
beserta akarnya dan
dengan memotong
bagian pangkal batang
yang berada di atas
tanah dengan pisau
tajam.
Pasca panen sawi
yang perlu
diperhatikan adalah :
1. Pencucian dan
pembuangan kotoran.
2. Sortasi.
3. Pengemasan.
4. Penympanan.
5. Pengolahan.
Article:
Budidaya Caisim
Sabtu, 25 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Sabtu, 25 September 2010
BUDIDAYA TANAMAN SAWI - APT
A. LATAR BELAKANG.
Jagad Indonesia ini
memungkinkan
dikembangkan
tanaman sayur-
sayuran yang banyak
bermanfaat bagi
pertumbuhan dan
perkembangan bagi
manusia. Sehingga
ditinjau dari aspek
klimatologis Indonesia
sangat tepat untuk
dikembangkan untuk
bisnis sayuran.
Di antara tanaman
sayur-sayuran yang
mudah dibudidayakan
adalah caisim. Karena
caisim ini sangat
mudah dikembangkan
dan banyak kalangan
yang menyukai dan
memanfaatkannya.
Selain itu juga sangat
potensial untuk
komersial dan prospek
sangat baik..
Ditinjau dari aspek
klimatologis, aspek
teknis, aspek ekonomis
dan aspek sosialnya
sangat mendukung,
sehingga memiliki
kelayakan untuk
diusahakan di
Indonesia.
Sebutan sawi orang
asing adalah mustard.
Perdagangan
internasional dengan
sebutan green
mustard, chinese
mustard, indian
mustard ataupun
sarepta mustard.
Orang Jawa, Madura
menyebutnya dengan
sawi, sedang orang
Sunda menyebut
sasawi.
B. MANFAAT.
Manfaat sawi sangat
baik untuk
menghilangkan rasa
gatal di tenggorokan
pada penderita batuk.
Penyembuh penyakit
kepala, bahan
pembersih darah,
memperbaiki fungsi
ginjal, serta
memperbaiki dan
memperlancar
pencernaan.
Sedangkan kandungan
yang terdapat pada
sawi adalah protein,
lemak, karbohidrat, Ca,
P, Fe, Vitamin A,
Vitamin B, dan Vitamin
C.
JENIS SAWI
A. KLASIFIKASI BOTANI.
Divisi : Spermatophyta.
Subdivisi :
Angiospermae.
Kelas : Dicotyledonae.
Ordo : Rhoeadales
(Brassicales).
Famili : Cruciferae
(Brassicaceae).
Genus : Brassica.
Spesies : Brassica
Juncea.
B. JENIS-JENIS SAWI.
Secara umum tanaman
sawi biasanya
mempunyai daun
panjang, halus, tidak
berbulu, dan tidak
berkrop. Petani kita
hanya mengenal 3
macam sawi yang
biasa dibudidayakan
yaitu : sawi putih
(sawi jabung), sawi
hijau, dan sawi huma.
Sekarang ini
masyarakat lebih
mengenal caisim alias
sawi bakso. Selain itu
juga ada pula jenis
sawi keriting dan sawi
sawi monumen.
Caisim alias sawi bakso
ada juga yang
menyebutnya sawi
cina., merupakan jenis
sawi yang paling
banyak dijajakan di
pasar-pasae dewasa
ini. Tangkai daunnya
panjang, langsing,
berwarna putih
kehijauan. Daunnya
lebar memanjang, tipis
dan berwarna hijau.
Rasanya yang renyah,
segar, dengan sedikit
sekali rasa pahit. Selain
enak ditumis atau
dioseng, juga untuk
pedangan mie bakso,
mie ayam, atau
restoran cina.
SYARAT TUMBUH
Sawi bukan tanaman
asli Indonesia,
menurut asalnya di
Asia. Karena Indonesia
mempunyai kecocokan
terhadap iklim, cuaca
dan tanahnya
sehingga
dikembangkan di
Indonesia ini.
Tanaman sawi dapat
tumbuh baik di tempat
yang berhawa panas
maupun berhawa
dingin, sehingga dapat
diusahakan dari
dataran rendah
maupun dataran
tinggi. Meskipun
demikian pada
kenyataannya hasil
yang diperoleh lebih
baik di dataran tinggi.
Daerah penanaman
yang cocok adalah
mulai dari ketinggian 5
meter sampai dengan
1.200 meter di atas
permukaan laut.
Namun biasanya
dibudidayakan pada
daerah yang
mempunyai ketinggian
100 meter sampai 500
meter dpl.
Tanaman sawi tahan
terhadap air hujan,
sehingga dapat di
tanam sepanjang
tahun. Pada musim
kemarau yang perlu
diperhatikan adalah
penyiraman secara
teratur. Berhubung
dalam
pertumbuhannya
tanaman ini
membutuhkan hawa
yang sejuk. lebih cepat
tumbuh apabila
ditanam dalam
suasana lembab. Akan
tetapi tanaman ini
juga tidak senang
pada air yang
menggenang. Dengan
demikian, tanaman ini
cocok bils di tanam
pada akhir musim
penghujan.
Tanah yang cocok
untuk ditanami sawi
adalah tanah gembur,
banyak mengandung
humus, subur, serta
pembuangan airnya
baik. Derajat
kemasaman (pH) tanah
yang optimum untuk
pertumbuhannya
adalah antara pH 6
sampai pH 7.
BUDIDAYA TANAMAN
SAWI
Cara bertanam sawi
sesungguhnya tak
berbeda jauh dengan
budidaya sayuran
pada umumnya.
Budidaya
konvensional di lahan
meliputi proses
pengolahan lahan,
penyiapan benih,
teknik penanaman,
penyediaan pupuk dan
pestisida, serta
pemeliharaan
tanaman.
Sawi dapat ditanam
secara monokultur
maupun tunmpang
sari. Tanaman yang
dapat
ditumpangsarikan
antara lain : bawang
dau, wortel, bayam,
kangkung darat.
Sedangkan menanam
benih sawi ada yang
secara langsung tetapi
ada juga melalui
pembibitan terlebih
dahulu.
Berikut ini akan
dibahas mengenai
teknik budidaya sawi
secara konvensional di
lahan.
A. BENIH.
Benih merupakan salah
satu faktor penentu
keberhasilan usaha
tani. Benih yang baik
akan menghasilkan
tanaman yang tumbuh
dengan bagus.
Kebutuhan benih sawi
untuk setiap hektar
lahan tanam sebesar
750 gram.
Benih sawi berbentuk
bulat, kecil-kecil.
Permukaannya licin
mengkilap dan agak
keras. Warna kulit
benih coklat
kehitaman. Benih yang
akan kita gunakan
harus mempunyai
kualitas yang baik,
seandainya beli harus
kita perhatikan lama
penyimpanan,
varietas, kadar air,
suhu dan tempat
menyimpannya. Selain
itu juga harus
memperhatikan
kemasan benih harus
utuh. kemasan yang
baik adalah dengan
alumunium foil.
Apabila benih yang
kita gunakan dari hasil
pananaman kita harus
memperhatikan
kualitas benih itu,
misalnya tanaman
yang akan diambil
sebagai benih harus
berumur lebih dari 70
hari. Dan penanaman
sawi yang akan
dijadikan benih
terpisah dari tanaman
sawi yang lain. Juga
memperhatikan proses
yang akan dilakukan
mesilnya dengan
dianginkan, tempat
penyimpanan dan
diharapkan lama
penggunaan benih
tidak lebih dari 3
tahun.
B. PENGOLAHAN TANAH.
Pengolahan tanah
secara umum
melakukan
penggemburan dan
pembuatan bedengan.
Tahap-tahap
pengemburan yaitu
pencangkulan untuk
memperbaiki struktur
tanah dan sirkulasi
udara dan pemberian
pupuk dasar untuk
memperbaiki fisik
serta kimia tanah yang
akan menambah
kesuburan lahan yang
akan kita gunakan.
Tanah yang hendak
digemburkan harus
dibersihkan dari
bebatuan, rerumputan,
semak atau
pepohonan yang
tumbuh. Dan bebas
dari daerah ternaungi,
karena tanaman sawi
suka pada cahaya
matahari secara
langsung.
Sedangkan kedalaman
tanah yang dicangkul
sedalam 20 sampai 40
cm. Pemberian pupuk
organik sangat baik
untuk penyiapan
tanah. Sebagai contoh
pemberian pupuk
kandang yang baik
yaitu 10 ton/ha. Pupuk
kandang diberikan
saat penggemburan
agar cepat merata dan
bercampur dengan
tanah yang akan kita
gunakan.
Bila daerah yang
mempunyai pH terlalu
rendah (asam)
sebaiknya dilakukan
pengapuran.
Pengapuran ini
bertujuan untuk
menaikkan derajad
keasam tanah,
pengapuran ini
dilakukan jauh-jauh
sebelum penanaman
benih, yaitu kira-kira 2
sampai 4 minggu
sebelumnya. Sehingga
waktu yang baik
dalam melakukan
penggemburan tanah
yaitu 2 – 4 minggu
sebelum lahan hendak
ditanam. Jenis kapur
yang digunakan
adalah kapur kalsit
(CaCO3) atau dolomit
(CaMg(CO3)2).
C. PEMBIBITAN.
Pembibitan dapat
dilakukan bersamaan
dengan pengolahan
tanah untuk
penanaman. Karena
lebih efisien dan benih
akan lebih cepat
beradaptasi terhadap
lingkungannya. Sedang
ukuran bedengan
pembibitan yaitu lebar
80 – 120 cm dan
panjangnya 1 – 3
meter. Curah hujan
lebih dari 200 mm/
bulan, tinggi bedengan
20 – 30 cm.
Dua minggu sebelum
di tabur benih,
bedengan pembibitan
ditaburi dengan pupuk
kandang lalu di
tambah 20 gram urea,
10 gram TSP, dan 7,5
gram Kcl.
Cara melakukan
pembibitan ialah
sebagai berikut : benih
ditabur, lalu ditutupi
tanah setebal 1 – 2 cm,
lalu disiram dengan
sprayer, kemudian
diamati 3 – 5 hari
benih akan tumbuh
setelah berumur 3 – 4
minggu sejak
disemaikan tanaman
dipindahkan ke
bedengan.
D. PENANAMAN.
Bedengan dengan
ukuran lebar 120 cm
dan panjang sesuai
dengan ukuran petak
tanah. Tinggi bedeng
20 – 30 cm dengan
jarak antar bedeng 30
cm, seminggu sebelum
penanaman dilakukan
pemupukan terlebih
dahulu yaitu pupuk
kandang 10 ton/ha,
TSP 100 kg/ha, Kcl 75
kg/ha. Sedang jarak
tanam dalam
bedengan 40 x 40 cm ,
30 x 30 dan 20 x 20
cm.
Pilihlah bibit yang baik,
pindahkan bibit
dengan hati-hati, lalu
membuat lubang
dengan ukuran 4 – 8 x
6 – 10 cm.
E. PEMELIHARAAN.
Pemeliharaan adalah
hal yang penting.
Sehingga akan sangat
berpengaruh terhadap
hasil yang akan
didapat. Pertama-tama
yang perlu
diperhatikan adalah
penyiraman,
penyiraman ini
tergantung pada
musim, bila musim
penghujan dirasa
berlebih maka kita
perlu melakukan
pengurangan air yang
ada, tetapi sebaliknya
bila musim kemarau
tiba kita harus
menambah air demi
kecukupan tanaman
sawi yang kita tanam.
Bila tidak terlalu
panaspenyiraman
dilakukan sehari cukup
sekali sore atau pagi
hari.
Tahap selanjutnya
yaitu penjarangan,
penjarangan dilakukan
2 minggu setelah
penanaman. Caranya
dengan mencabut
tanaman yang tumbuh
terlalu rapat.
Selanjutnya tahap
yang dilakukan adalah
penyulaman,
penyulaman ialah
tindakan penggantian
tanaman ini dengan
tanaman baru. Caranya
sangat mudah yaitu
tanaman yang mati
atau terserang hama
dan penyakit diganti
dengan tanaman yang
baru.
Penyiangan biasanya
dilakukan 2 – 4 kali
selama masa
pertanaman sawi,
disesuaikan dengan
kondisi keberadaan
gulma pada bedeng
penanaman. Biasanya
penyiangan dilakukan
1 atau 2 minggu
setelah penanaman.
Apabila perlu dilakukan
penggemburan dan
pengguludan
bersamaan dengan
penyiangan.
Pemupukan tambahan
diberikan setelah 3
minggu tanam, yaitu
dengan urea 50 kg/ha.
Dapat juga dengan
satu sendok the
sekitar 25 gram
dilarutkan dalam 25
liter air dapat
disiramkan untuk 5 m
bedengan.
PENANAMAN
VERTIKULTUR
Langkah – angkah
penanaman secara
vertikultur adalah
sebagai berikut :
1. Benih disemaikan
pada kotak
persemaian denagn
media pasir. Bibit
dirawat hingga siap
ditanaman pada umur
14 hari sejak benih
disemaikan.
2. Sediakan media
tanam berupa tanah
top soil, pupuk
kandang, pasir dan
kompos dengan
perbandingan 2:1:1:1
yang dicampur secara
merata.
3. Masukkan campuran
media tanam tersebut
ke dalam polibag yang
berukuran 20 x 30 cm.
4. Pindahkan bibit
tanaman yang sudah
siap tanam ke dalam
polibag yang tersedia.
Tanaman yang
dipindahkan biasanya
telah berdaun 3 – 5
helai.
5. Polibag yang sudah
ditanami disusun pada
rak-rak yang tersedia
pada Lath House.
PENANAMAN
HIDROPONIK.
Langkah-langkah
penanaman secara
hidroponik adalah
sebagai berikut :
1. Siapkan wadah
persemaian . Masukkan
media berupa pasir
halus yang disterilkan
setebal 3 – 4 cm.
Taburkan benih sawi
di atasnya selanjutnya
tutupi kembali dengan
lapisan pasir setebal
0,5 cm.
2. Setelah bibit tumbuh
dan berdaun 3 – 5
helai (umur 3 – 4
minggu0, bibit dicabut
dengan hati-hati,
selanjutnya bagian
akarnya dicuci dengan
air hingga bersih, akar
yang terlalu panjang
dapat digunting.
3. Bak penanaman diisi
bagian bawahnya
dengan kerikil steril
setebal 7 – 10 cm,
selanjutnya di sebelah
atas ditambahkan
lapisan pasir kasar
yang juga sudah steril
setebal 20 cm.
4. Buat lubang
penanaman dengan
jarak sekitar 25 x 25
cm, masukkan bibit ke
lubang tersebut, tutupi
bagian akar bibit
dengan media hingga
melewati leher akar,
usahakan posisi bibit
tegak lurus dengan
media.
5. Berikan larutan
hidroponik lewat
penyiraman, dapat
pula pemberian
dilakukan dengan
sistem drip irigation
atau sistem lainnya,
tanaman baru
selanjutnya dipelihara
hingga tumbuh besar.
HAMA DAN PENYAKIT
A. HAMA.
1. Ulat titik tumbuh
(Crocidolomia binotalis
Zell.).
2. Ulat tritip (Plutella
maculipennis).
3. Siput (Agriolimas
sp.).
4. Ulat Thepa javanica.
5. Cacing bulu (cut
worm).
B. PENYAKIT.
1. Penyakit akar pekuk.
2. Bercak daun
alternaria.
3. Busuk basah (soft
root).
4. Penyakit embun
tepung (downy
mildew).
5. Penyakit rebah
semai (dumping off).
6. Busuk daun.
7. busuk Rhizoctonia
(bottom root).
8. Bercak daun.
9. Virus mosaik.
PANEN DAN
PENANGANAN PASCA
PANEN.
Dalam hal pemanenan
penting sekali
diperhatikan umur
panen dan cara
panennya. Umur
panen sawi paling
lama 70 hari. Paling
pendek umur 40 hari.
Terlebih dahulu
melihat fisik tanaman
seperti warna, bentuk
dan ukuran daun. Cara
panen ada 2 macam
yaitu mencabut
seluruh tanaman
beserta akarnya dan
dengan memotong
bagian pangkal batang
yang berada di atas
tanah dengan pisau
tajam.
Pasca panen sawi
yang perlu
diperhatikan adalah :
1. Pencucian dan
pembuangan kotoran.
2. Sortasi.
3. Pengemasan.
4. Penympanan.
5. Pengolahan.
Article:
Budidaya Caisim
Jagad Indonesia ini
memungkinkan
dikembangkan
tanaman sayur-
sayuran yang banyak
bermanfaat bagi
pertumbuhan dan
perkembangan bagi
manusia. Sehingga
ditinjau dari aspek
klimatologis Indonesia
sangat tepat untuk
dikembangkan untuk
bisnis sayuran.
Di antara tanaman
sayur-sayuran yang
mudah dibudidayakan
adalah caisim. Karena
caisim ini sangat
mudah dikembangkan
dan banyak kalangan
yang menyukai dan
memanfaatkannya.
Selain itu juga sangat
potensial untuk
komersial dan prospek
sangat baik..
Ditinjau dari aspek
klimatologis, aspek
teknis, aspek ekonomis
dan aspek sosialnya
sangat mendukung,
sehingga memiliki
kelayakan untuk
diusahakan di
Indonesia.
Sebutan sawi orang
asing adalah mustard.
Perdagangan
internasional dengan
sebutan green
mustard, chinese
mustard, indian
mustard ataupun
sarepta mustard.
Orang Jawa, Madura
menyebutnya dengan
sawi, sedang orang
Sunda menyebut
sasawi.
B. MANFAAT.
Manfaat sawi sangat
baik untuk
menghilangkan rasa
gatal di tenggorokan
pada penderita batuk.
Penyembuh penyakit
kepala, bahan
pembersih darah,
memperbaiki fungsi
ginjal, serta
memperbaiki dan
memperlancar
pencernaan.
Sedangkan kandungan
yang terdapat pada
sawi adalah protein,
lemak, karbohidrat, Ca,
P, Fe, Vitamin A,
Vitamin B, dan Vitamin
C.
JENIS SAWI
A. KLASIFIKASI BOTANI.
Divisi : Spermatophyta.
Subdivisi :
Angiospermae.
Kelas : Dicotyledonae.
Ordo : Rhoeadales
(Brassicales).
Famili : Cruciferae
(Brassicaceae).
Genus : Brassica.
Spesies : Brassica
Juncea.
B. JENIS-JENIS SAWI.
Secara umum tanaman
sawi biasanya
mempunyai daun
panjang, halus, tidak
berbulu, dan tidak
berkrop. Petani kita
hanya mengenal 3
macam sawi yang
biasa dibudidayakan
yaitu : sawi putih
(sawi jabung), sawi
hijau, dan sawi huma.
Sekarang ini
masyarakat lebih
mengenal caisim alias
sawi bakso. Selain itu
juga ada pula jenis
sawi keriting dan sawi
sawi monumen.
Caisim alias sawi bakso
ada juga yang
menyebutnya sawi
cina., merupakan jenis
sawi yang paling
banyak dijajakan di
pasar-pasae dewasa
ini. Tangkai daunnya
panjang, langsing,
berwarna putih
kehijauan. Daunnya
lebar memanjang, tipis
dan berwarna hijau.
Rasanya yang renyah,
segar, dengan sedikit
sekali rasa pahit. Selain
enak ditumis atau
dioseng, juga untuk
pedangan mie bakso,
mie ayam, atau
restoran cina.
SYARAT TUMBUH
Sawi bukan tanaman
asli Indonesia,
menurut asalnya di
Asia. Karena Indonesia
mempunyai kecocokan
terhadap iklim, cuaca
dan tanahnya
sehingga
dikembangkan di
Indonesia ini.
Tanaman sawi dapat
tumbuh baik di tempat
yang berhawa panas
maupun berhawa
dingin, sehingga dapat
diusahakan dari
dataran rendah
maupun dataran
tinggi. Meskipun
demikian pada
kenyataannya hasil
yang diperoleh lebih
baik di dataran tinggi.
Daerah penanaman
yang cocok adalah
mulai dari ketinggian 5
meter sampai dengan
1.200 meter di atas
permukaan laut.
Namun biasanya
dibudidayakan pada
daerah yang
mempunyai ketinggian
100 meter sampai 500
meter dpl.
Tanaman sawi tahan
terhadap air hujan,
sehingga dapat di
tanam sepanjang
tahun. Pada musim
kemarau yang perlu
diperhatikan adalah
penyiraman secara
teratur. Berhubung
dalam
pertumbuhannya
tanaman ini
membutuhkan hawa
yang sejuk. lebih cepat
tumbuh apabila
ditanam dalam
suasana lembab. Akan
tetapi tanaman ini
juga tidak senang
pada air yang
menggenang. Dengan
demikian, tanaman ini
cocok bils di tanam
pada akhir musim
penghujan.
Tanah yang cocok
untuk ditanami sawi
adalah tanah gembur,
banyak mengandung
humus, subur, serta
pembuangan airnya
baik. Derajat
kemasaman (pH) tanah
yang optimum untuk
pertumbuhannya
adalah antara pH 6
sampai pH 7.
BUDIDAYA TANAMAN
SAWI
Cara bertanam sawi
sesungguhnya tak
berbeda jauh dengan
budidaya sayuran
pada umumnya.
Budidaya
konvensional di lahan
meliputi proses
pengolahan lahan,
penyiapan benih,
teknik penanaman,
penyediaan pupuk dan
pestisida, serta
pemeliharaan
tanaman.
Sawi dapat ditanam
secara monokultur
maupun tunmpang
sari. Tanaman yang
dapat
ditumpangsarikan
antara lain : bawang
dau, wortel, bayam,
kangkung darat.
Sedangkan menanam
benih sawi ada yang
secara langsung tetapi
ada juga melalui
pembibitan terlebih
dahulu.
Berikut ini akan
dibahas mengenai
teknik budidaya sawi
secara konvensional di
lahan.
A. BENIH.
Benih merupakan salah
satu faktor penentu
keberhasilan usaha
tani. Benih yang baik
akan menghasilkan
tanaman yang tumbuh
dengan bagus.
Kebutuhan benih sawi
untuk setiap hektar
lahan tanam sebesar
750 gram.
Benih sawi berbentuk
bulat, kecil-kecil.
Permukaannya licin
mengkilap dan agak
keras. Warna kulit
benih coklat
kehitaman. Benih yang
akan kita gunakan
harus mempunyai
kualitas yang baik,
seandainya beli harus
kita perhatikan lama
penyimpanan,
varietas, kadar air,
suhu dan tempat
menyimpannya. Selain
itu juga harus
memperhatikan
kemasan benih harus
utuh. kemasan yang
baik adalah dengan
alumunium foil.
Apabila benih yang
kita gunakan dari hasil
pananaman kita harus
memperhatikan
kualitas benih itu,
misalnya tanaman
yang akan diambil
sebagai benih harus
berumur lebih dari 70
hari. Dan penanaman
sawi yang akan
dijadikan benih
terpisah dari tanaman
sawi yang lain. Juga
memperhatikan proses
yang akan dilakukan
mesilnya dengan
dianginkan, tempat
penyimpanan dan
diharapkan lama
penggunaan benih
tidak lebih dari 3
tahun.
B. PENGOLAHAN TANAH.
Pengolahan tanah
secara umum
melakukan
penggemburan dan
pembuatan bedengan.
Tahap-tahap
pengemburan yaitu
pencangkulan untuk
memperbaiki struktur
tanah dan sirkulasi
udara dan pemberian
pupuk dasar untuk
memperbaiki fisik
serta kimia tanah yang
akan menambah
kesuburan lahan yang
akan kita gunakan.
Tanah yang hendak
digemburkan harus
dibersihkan dari
bebatuan, rerumputan,
semak atau
pepohonan yang
tumbuh. Dan bebas
dari daerah ternaungi,
karena tanaman sawi
suka pada cahaya
matahari secara
langsung.
Sedangkan kedalaman
tanah yang dicangkul
sedalam 20 sampai 40
cm. Pemberian pupuk
organik sangat baik
untuk penyiapan
tanah. Sebagai contoh
pemberian pupuk
kandang yang baik
yaitu 10 ton/ha. Pupuk
kandang diberikan
saat penggemburan
agar cepat merata dan
bercampur dengan
tanah yang akan kita
gunakan.
Bila daerah yang
mempunyai pH terlalu
rendah (asam)
sebaiknya dilakukan
pengapuran.
Pengapuran ini
bertujuan untuk
menaikkan derajad
keasam tanah,
pengapuran ini
dilakukan jauh-jauh
sebelum penanaman
benih, yaitu kira-kira 2
sampai 4 minggu
sebelumnya. Sehingga
waktu yang baik
dalam melakukan
penggemburan tanah
yaitu 2 – 4 minggu
sebelum lahan hendak
ditanam. Jenis kapur
yang digunakan
adalah kapur kalsit
(CaCO3) atau dolomit
(CaMg(CO3)2).
C. PEMBIBITAN.
Pembibitan dapat
dilakukan bersamaan
dengan pengolahan
tanah untuk
penanaman. Karena
lebih efisien dan benih
akan lebih cepat
beradaptasi terhadap
lingkungannya. Sedang
ukuran bedengan
pembibitan yaitu lebar
80 – 120 cm dan
panjangnya 1 – 3
meter. Curah hujan
lebih dari 200 mm/
bulan, tinggi bedengan
20 – 30 cm.
Dua minggu sebelum
di tabur benih,
bedengan pembibitan
ditaburi dengan pupuk
kandang lalu di
tambah 20 gram urea,
10 gram TSP, dan 7,5
gram Kcl.
Cara melakukan
pembibitan ialah
sebagai berikut : benih
ditabur, lalu ditutupi
tanah setebal 1 – 2 cm,
lalu disiram dengan
sprayer, kemudian
diamati 3 – 5 hari
benih akan tumbuh
setelah berumur 3 – 4
minggu sejak
disemaikan tanaman
dipindahkan ke
bedengan.
D. PENANAMAN.
Bedengan dengan
ukuran lebar 120 cm
dan panjang sesuai
dengan ukuran petak
tanah. Tinggi bedeng
20 – 30 cm dengan
jarak antar bedeng 30
cm, seminggu sebelum
penanaman dilakukan
pemupukan terlebih
dahulu yaitu pupuk
kandang 10 ton/ha,
TSP 100 kg/ha, Kcl 75
kg/ha. Sedang jarak
tanam dalam
bedengan 40 x 40 cm ,
30 x 30 dan 20 x 20
cm.
Pilihlah bibit yang baik,
pindahkan bibit
dengan hati-hati, lalu
membuat lubang
dengan ukuran 4 – 8 x
6 – 10 cm.
E. PEMELIHARAAN.
Pemeliharaan adalah
hal yang penting.
Sehingga akan sangat
berpengaruh terhadap
hasil yang akan
didapat. Pertama-tama
yang perlu
diperhatikan adalah
penyiraman,
penyiraman ini
tergantung pada
musim, bila musim
penghujan dirasa
berlebih maka kita
perlu melakukan
pengurangan air yang
ada, tetapi sebaliknya
bila musim kemarau
tiba kita harus
menambah air demi
kecukupan tanaman
sawi yang kita tanam.
Bila tidak terlalu
panaspenyiraman
dilakukan sehari cukup
sekali sore atau pagi
hari.
Tahap selanjutnya
yaitu penjarangan,
penjarangan dilakukan
2 minggu setelah
penanaman. Caranya
dengan mencabut
tanaman yang tumbuh
terlalu rapat.
Selanjutnya tahap
yang dilakukan adalah
penyulaman,
penyulaman ialah
tindakan penggantian
tanaman ini dengan
tanaman baru. Caranya
sangat mudah yaitu
tanaman yang mati
atau terserang hama
dan penyakit diganti
dengan tanaman yang
baru.
Penyiangan biasanya
dilakukan 2 – 4 kali
selama masa
pertanaman sawi,
disesuaikan dengan
kondisi keberadaan
gulma pada bedeng
penanaman. Biasanya
penyiangan dilakukan
1 atau 2 minggu
setelah penanaman.
Apabila perlu dilakukan
penggemburan dan
pengguludan
bersamaan dengan
penyiangan.
Pemupukan tambahan
diberikan setelah 3
minggu tanam, yaitu
dengan urea 50 kg/ha.
Dapat juga dengan
satu sendok the
sekitar 25 gram
dilarutkan dalam 25
liter air dapat
disiramkan untuk 5 m
bedengan.
PENANAMAN
VERTIKULTUR
Langkah – angkah
penanaman secara
vertikultur adalah
sebagai berikut :
1. Benih disemaikan
pada kotak
persemaian denagn
media pasir. Bibit
dirawat hingga siap
ditanaman pada umur
14 hari sejak benih
disemaikan.
2. Sediakan media
tanam berupa tanah
top soil, pupuk
kandang, pasir dan
kompos dengan
perbandingan 2:1:1:1
yang dicampur secara
merata.
3. Masukkan campuran
media tanam tersebut
ke dalam polibag yang
berukuran 20 x 30 cm.
4. Pindahkan bibit
tanaman yang sudah
siap tanam ke dalam
polibag yang tersedia.
Tanaman yang
dipindahkan biasanya
telah berdaun 3 – 5
helai.
5. Polibag yang sudah
ditanami disusun pada
rak-rak yang tersedia
pada Lath House.
PENANAMAN
HIDROPONIK.
Langkah-langkah
penanaman secara
hidroponik adalah
sebagai berikut :
1. Siapkan wadah
persemaian . Masukkan
media berupa pasir
halus yang disterilkan
setebal 3 – 4 cm.
Taburkan benih sawi
di atasnya selanjutnya
tutupi kembali dengan
lapisan pasir setebal
0,5 cm.
2. Setelah bibit tumbuh
dan berdaun 3 – 5
helai (umur 3 – 4
minggu0, bibit dicabut
dengan hati-hati,
selanjutnya bagian
akarnya dicuci dengan
air hingga bersih, akar
yang terlalu panjang
dapat digunting.
3. Bak penanaman diisi
bagian bawahnya
dengan kerikil steril
setebal 7 – 10 cm,
selanjutnya di sebelah
atas ditambahkan
lapisan pasir kasar
yang juga sudah steril
setebal 20 cm.
4. Buat lubang
penanaman dengan
jarak sekitar 25 x 25
cm, masukkan bibit ke
lubang tersebut, tutupi
bagian akar bibit
dengan media hingga
melewati leher akar,
usahakan posisi bibit
tegak lurus dengan
media.
5. Berikan larutan
hidroponik lewat
penyiraman, dapat
pula pemberian
dilakukan dengan
sistem drip irigation
atau sistem lainnya,
tanaman baru
selanjutnya dipelihara
hingga tumbuh besar.
HAMA DAN PENYAKIT
A. HAMA.
1. Ulat titik tumbuh
(Crocidolomia binotalis
Zell.).
2. Ulat tritip (Plutella
maculipennis).
3. Siput (Agriolimas
sp.).
4. Ulat Thepa javanica.
5. Cacing bulu (cut
worm).
B. PENYAKIT.
1. Penyakit akar pekuk.
2. Bercak daun
alternaria.
3. Busuk basah (soft
root).
4. Penyakit embun
tepung (downy
mildew).
5. Penyakit rebah
semai (dumping off).
6. Busuk daun.
7. busuk Rhizoctonia
(bottom root).
8. Bercak daun.
9. Virus mosaik.
PANEN DAN
PENANGANAN PASCA
PANEN.
Dalam hal pemanenan
penting sekali
diperhatikan umur
panen dan cara
panennya. Umur
panen sawi paling
lama 70 hari. Paling
pendek umur 40 hari.
Terlebih dahulu
melihat fisik tanaman
seperti warna, bentuk
dan ukuran daun. Cara
panen ada 2 macam
yaitu mencabut
seluruh tanaman
beserta akarnya dan
dengan memotong
bagian pangkal batang
yang berada di atas
tanah dengan pisau
tajam.
Pasca panen sawi
yang perlu
diperhatikan adalah :
1. Pencucian dan
pembuangan kotoran.
2. Sortasi.
3. Pengemasan.
4. Penympanan.
5. Pengolahan.
Article:
Budidaya Caisim
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar