Minggu, 19 September 2010

smkn 1 paloh Razia hp di sekolah



Perkembangan
teknologi semakin
memasyarakat
dikalangan anak didik.
Hal ini merupakan
suatu kebanggaan
bagi orang tua, karena
punya anak yang tidak
ketinggalan jaman.
Orang tua menyadari
akan pentingnya HP
bagi anaknya dengan
berbagai alasan.
Sehingga HP, dewasa
ini bukan barang
mewah lagi atau
bukan kebutuhan
sekunder, melainkan
kebutuhan primer. HP
dipergunakan untuk
hal-hal pelayanan,
transaksi bisnis dan
promosi.
Perkembangan
teknologi semakin
meningkat, fungsi HP
semakin meluas bukan
hanya sebagai alat
komunikasi, tetapi
juga dipergunakan
dalam urusan lain
seperti; SMS, MP3,
Vidio, Kamera,
Recoard, sehingga HP
menjadi Multimedia.
Siapa tak tertarik
olehnya? Keberhasilan
HP menggerogoti
pikiran orang, tak
disadari imperialisme
budaya pun merajalela.
kini HP adalah sakunya
anak didik. Hampir
semua anak didik
mengantongi HP.
Mereka merasa PD
dengan HP dan seolah-
olah menyatakan
dirinya “saya orang
modern, saya orang
teknologi”). Budaya
tradisional semakin
jauh ketinggalan oleh
gaya hidup mewah.

Etika oleh filsafat
Yunani besar
Aristoteles (384-322
s,M) sudah dipakai
untuk menunjuk
filsafat moral. Secara
etimologi berarti adat, kebiasaan. Untuk
kasus di atas pengertian etika
secara etimologi
nampaknya belum
cukup, maka ada
penjelasan lain yang
lebih koperensif
tentang pengertian
etika yaitu:

1). Nilai-nilai dan norma-norma
moral yang menjadi
pegangan bagi
seseorang atau suatu
kelompok dalam
mengatur tingkah
lakunya,

2). Kumpulan
asas atau nilai moral
(kode etik),

3) ilmu
tentang yang baik
atau buruk (K.Bertens,
2005, hal 4-6). Kalau
berorientasi pada teori
belajar hakikat belajar
adalah adanya
perubahan tingkah
laku.
Pengalaman
siswa bagian dari
proses pembelajaran,
kemampuan menggunakan HP juga
bagian dari
pembelajaran.

Tetapi
perubahan tingkah
laku atau prilaku yang
bagaimana yang
diinginkan dalam
pendidikan?. Untuk
menjawabnya adalah
etika, etika moral
sorang siswa. Jadi
tujuan pendidikan
atau pembelajaran
yang dimaksud adalah
perubahan tingkah
laku yang beretika.
Bagaimana etika anak
didik di era teknolgi HP
saat ini? Dalam hal
integritas kesiswaan,
ada gejala-gejala
kesenjangan. Anak
didik yang membawa
HP cendrung bersifat
individualisme, mereka
bergaual atau
bercakap-cakap bukan
dengan teman
disampingnya,
melainkan orang yang
diluar lingkungan
belajarnya dengan
sarana SMS HP-nya.
Karena HP barang
mahal sehingga dapat
dimaklumi bila ada
keengganan
meminjamkan pada
temannya. Prilaku
seperti ini berlangsung
terus menerus, maka
mulai muncul sikap-
sikap egois dan pamer
di antara anak didik
yang membawa HP.
Bagi anak didik yang
tidak membawa HP
merasa terasing di
lingkungan sekolah
bahkan merasa asing
di kelasnya sendiri.
Sekali dua kali
dipinjamkam
untuknya, selanjutnya
tak heran muncul
perasaan malu, apalagi tidak bisa
mengoperasikan.
Siswa yang tidak
punya HP harus
beradaptasi, agar tidak kena seleksi
dilingkungan kelasnya,
caranya “menuntut
kepada orang tua agar
dibelikan HP”.
Integritas semakin
melemah dan
kesenjangan pergaulan
akibat Teknologi
semakin besar
walupun tidak muncul
dipermukaan ( teori
konflik laten) Di dalam
ruang belajar (di kelas)
sadar atau tidak sadar,
sengaja atau bukan
sengaja, sering suara
HP berdering mengusik
ketenangan dan
keseriuasan belajar.
Hanya dengan sepatah
dua patah kata “maaf
pak saya lupa
mematikan” seorang
guru tidak bias
berbuat apa-apa,
tertindas oleh
teknologi. Tidak kalah
menariknya untuk
diungkapkan tentang
prilaku siswa dalam
ruangan kelas ketika
mata pelajaran
Matematik, Kimia atau
Fisika, HP semuanya
keluar dari kantong
atau tasnya hanya
untuk menjumlahkan,
mengurangkan atau
mengalikan bilangan-
bilangan sederhana
dalam contoh soal
perhitungan yang
diberikan oleh guru.
Tentu ini gejala buruk
bagi perkembangan
nalar atau logika
berpikir siswa. Tidak
percaya dengan
pikirannya, lambat
menggunakan pikiran
atau nalar dan bahkan
faktor malas orat-oret
karena lebih praktis
dengan HP. Yang lebih
memprihatinkan
menjawab soal
ulangan dengan
bantuan teman lewat
SMS.
Itulah upaya yang dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja saat ini
Razia hp misalnya harus sangat tingkatkan di sekolah SMKN 1 PALOH dan hendaknya rutin dilakukan agar para siswa akan nyaman dan tenang saat belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minggu, 19 September 2010

smkn 1 paloh Razia hp di sekolah



Perkembangan
teknologi semakin
memasyarakat
dikalangan anak didik.
Hal ini merupakan
suatu kebanggaan
bagi orang tua, karena
punya anak yang tidak
ketinggalan jaman.
Orang tua menyadari
akan pentingnya HP
bagi anaknya dengan
berbagai alasan.
Sehingga HP, dewasa
ini bukan barang
mewah lagi atau
bukan kebutuhan
sekunder, melainkan
kebutuhan primer. HP
dipergunakan untuk
hal-hal pelayanan,
transaksi bisnis dan
promosi.
Perkembangan
teknologi semakin
meningkat, fungsi HP
semakin meluas bukan
hanya sebagai alat
komunikasi, tetapi
juga dipergunakan
dalam urusan lain
seperti; SMS, MP3,
Vidio, Kamera,
Recoard, sehingga HP
menjadi Multimedia.
Siapa tak tertarik
olehnya? Keberhasilan
HP menggerogoti
pikiran orang, tak
disadari imperialisme
budaya pun merajalela.
kini HP adalah sakunya
anak didik. Hampir
semua anak didik
mengantongi HP.
Mereka merasa PD
dengan HP dan seolah-
olah menyatakan
dirinya “saya orang
modern, saya orang
teknologi”). Budaya
tradisional semakin
jauh ketinggalan oleh
gaya hidup mewah.

Etika oleh filsafat
Yunani besar
Aristoteles (384-322
s,M) sudah dipakai
untuk menunjuk
filsafat moral. Secara
etimologi berarti adat, kebiasaan. Untuk
kasus di atas pengertian etika
secara etimologi
nampaknya belum
cukup, maka ada
penjelasan lain yang
lebih koperensif
tentang pengertian
etika yaitu:

1). Nilai-nilai dan norma-norma
moral yang menjadi
pegangan bagi
seseorang atau suatu
kelompok dalam
mengatur tingkah
lakunya,

2). Kumpulan
asas atau nilai moral
(kode etik),

3) ilmu
tentang yang baik
atau buruk (K.Bertens,
2005, hal 4-6). Kalau
berorientasi pada teori
belajar hakikat belajar
adalah adanya
perubahan tingkah
laku.
Pengalaman
siswa bagian dari
proses pembelajaran,
kemampuan menggunakan HP juga
bagian dari
pembelajaran.

Tetapi
perubahan tingkah
laku atau prilaku yang
bagaimana yang
diinginkan dalam
pendidikan?. Untuk
menjawabnya adalah
etika, etika moral
sorang siswa. Jadi
tujuan pendidikan
atau pembelajaran
yang dimaksud adalah
perubahan tingkah
laku yang beretika.
Bagaimana etika anak
didik di era teknolgi HP
saat ini? Dalam hal
integritas kesiswaan,
ada gejala-gejala
kesenjangan. Anak
didik yang membawa
HP cendrung bersifat
individualisme, mereka
bergaual atau
bercakap-cakap bukan
dengan teman
disampingnya,
melainkan orang yang
diluar lingkungan
belajarnya dengan
sarana SMS HP-nya.
Karena HP barang
mahal sehingga dapat
dimaklumi bila ada
keengganan
meminjamkan pada
temannya. Prilaku
seperti ini berlangsung
terus menerus, maka
mulai muncul sikap-
sikap egois dan pamer
di antara anak didik
yang membawa HP.
Bagi anak didik yang
tidak membawa HP
merasa terasing di
lingkungan sekolah
bahkan merasa asing
di kelasnya sendiri.
Sekali dua kali
dipinjamkam
untuknya, selanjutnya
tak heran muncul
perasaan malu, apalagi tidak bisa
mengoperasikan.
Siswa yang tidak
punya HP harus
beradaptasi, agar tidak kena seleksi
dilingkungan kelasnya,
caranya “menuntut
kepada orang tua agar
dibelikan HP”.
Integritas semakin
melemah dan
kesenjangan pergaulan
akibat Teknologi
semakin besar
walupun tidak muncul
dipermukaan ( teori
konflik laten) Di dalam
ruang belajar (di kelas)
sadar atau tidak sadar,
sengaja atau bukan
sengaja, sering suara
HP berdering mengusik
ketenangan dan
keseriuasan belajar.
Hanya dengan sepatah
dua patah kata “maaf
pak saya lupa
mematikan” seorang
guru tidak bias
berbuat apa-apa,
tertindas oleh
teknologi. Tidak kalah
menariknya untuk
diungkapkan tentang
prilaku siswa dalam
ruangan kelas ketika
mata pelajaran
Matematik, Kimia atau
Fisika, HP semuanya
keluar dari kantong
atau tasnya hanya
untuk menjumlahkan,
mengurangkan atau
mengalikan bilangan-
bilangan sederhana
dalam contoh soal
perhitungan yang
diberikan oleh guru.
Tentu ini gejala buruk
bagi perkembangan
nalar atau logika
berpikir siswa. Tidak
percaya dengan
pikirannya, lambat
menggunakan pikiran
atau nalar dan bahkan
faktor malas orat-oret
karena lebih praktis
dengan HP. Yang lebih
memprihatinkan
menjawab soal
ulangan dengan
bantuan teman lewat
SMS.
Itulah upaya yang dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja saat ini
Razia hp misalnya harus sangat tingkatkan di sekolah SMKN 1 PALOH dan hendaknya rutin dilakukan agar para siswa akan nyaman dan tenang saat belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar